Empat perkara yang dapat membatalkan wudu

Bismillahirahmanirahim Asalamu ‘laikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Alhamdulillahirabil’alamin Allahuma Ya ni’mal Maula waya Ni’mannasir Shali wasalim ‘adada ‘ilmik ‘ala sayidina muhamamd  man ja’al tahu lana hirzan harizan wa’ala alihi wa sahbih wansurna bihi wal muslimin bi asrori wa yansurakallahu nasron ‘aziza
Hadirin hadirat rahimakumullah, guru guru kita yang khususnya  datang dari Tarim Hadramaut al mukaram AL Habib Husein  bin Abdurahman Alhabsyi dan juga AL Habib Muhammad bin Ali Shihabudin , Syekh Ridwan Al Amiri guru kita yang menyampaikan sedikit terjemahan  tadi yang di baca oleh tetamu kita munsyid kita yang datang dari Tarim Habib Muhammad bin Ali bin Sihabudin , dan juga para habaib yang di sini juga Habib Ahmad Alydrus , Habib Nadir Almusawa , Habib Ramzi Almusawa dan segenap yang hadir tetamu undangan baginda Rasulullah Saw
Hadirin hadirat Rahimakumullah kelanjutan dari kitab Risalatul Jami’ah pada malam selasa yang lalu kita baca mengenai masalah mandi hadas atau mandi wajib ,yang berikutnya akan  di terangkan, di jelaskan oleh Al Imam Al Arif Billah Al habib Ahmad bin Zen Alhabsyi salah seorang dari murid AL Imamul Haddad pengarang kitab ini melanjutakan, Bismillahirahmanirahim

و ينقض الوضوء: الخارج من أحد السبلين القبل أو الدبر على ما كان و ينقض الوضوء زوال العقل بنوم أو غيره إلا نوم ممكن مقعدته من الأرض و ينقض الوضوء مس قبل أو دبر أدمي منه أو من غيره ببطن الكف و بطون الأصابع كبيرا كان أو صغيرا و لو ولده و لو ميتا. و ينقض الوضوء الوضوء إلتقاء بشرتي رجل و امرأة كبيرين أجنبيين بلا حآئل إلا ظفر أو شرا أو سنا فلا ينقض الوضوء

Setelah kita membaca mengenai furudul wudu pada beberapa waktu yang lalu bahkan masih di pegang saat itu oleh Alhabib Ahmad bin Jindan furudul wudu yang enam sudah kita ketahui hal – hal yang membatalkanya ini yang akan kita baca di malam hari ini sementara yang lainya sunah – sunah  dan makruh – makruhnya mungkin sudah di jelaskan oleh Habib Ahmad pada saat itu, di malam hari ini kita lanjutkan  mengenai perkara – perkara  apa saja yang dapat membatalkan wudu yaitu ada empat perkara

Yang pertama Segala sesuatu apa saja yang keluar dari dua jalan ‘’Asabilain  Alkubul  AwiDubur ‘’ kemaluan depan dan juga bagian belakang , apa pun yang iya temukan dalam keadaan apapun, dan apapun yang keluarnya baik yang biasa keluar, biasa keluar atau yang tidak biasa keluar seperti darah , maaf mungkin ada binatang cacing dari dubur seseorang  keluar atau apapun juga bahkan benda yang suci yang tertelan oleh kita seperti koin, uang koin atau klereng, dan sebagainya maka ketika keluar dari Dubur kita walaupun kita tidak buang hajat tidak keluar najisnya kotoran kita tetap membatalkan wudu apapun yang kular dari Kubul dan Dubur, baik yang keluarnya biasa, yang najis yang keluar dari perut kita, maupun yang tidak terbiasa atau yang tidak lazim ini yang menyebabkan kita, ketika kita memiliki wudu maka dengan sendirinya batal wudu kita masa berakhirnya selesai  dan  ketika kita akan hendak salat atau ketika kita akan membaca al qur’an, akan melaksanakan tawaf dan hal hal yang membutuhkan wudu bersuci maka kita wajib bersuci kembali ketika keluarnya sesuatu apapun juga dari Kubul dan Dubur jadi yang membatalkan wudu sesuatu yang keluar, sementara yang membatalkan puasa sesuatu yang masuk kedalam Kubul dan Dubur diantaranya, Dikatakan oleh para fuqoha yang membatalkan wudu segala sesuatu yang keluar dari Dubul dan Kubur sementara yang membatalkan puasa, saum sesuatu yang masuk kebalikanya ,kalau sesuatu yang masuk membatalkan puasa, sesuatu yang keluar membatalkan wudu.

Yang berikutnya yang ke dua: Yang membatalkan wudu  adalah hilang akal, hilang ingatan kesadaran seseorang bi naumin au ghoirihi (dengan tidur atau dengan yang lainya) seperti pingsan, gila , dan mabuk seseorang pingsan, hilang kesadarannya karena pingsan atau karena wal iyadubillah mabuk atau karena gila maka dengan sendirinya wudunya batal karena hilangnya kesadaran, hilang akal baik dengan tidur atau yang lainya kecuali , kecuali tidurnya seseorang yang rapat, maaf antara tempat duduknya itu dengan duburnya ketika lobang duburnya itu rapat dengan tempat duduknya apapun yang iya duduki baik tikar, karpet, di lantai di atas kendaraan nya di atas tungganganya baik di zaman dahulu mungkin onta, himar (keledai) dsb atau sekarang kita di dalam jok mobil, di dalam kendaraan mobil kalau maaf dubur kita menempel dengan tempat yang kita duduki rapat tidak ada renggang dan cela maka ketika itu seseorang tidur tetap tidak batal wudu nya tidak membatalkan wudu kecuali kalau dia bangun dia sudah berubah waktu dia bangun di sudah nungging, dia udah terlentang dia ‘’ yanamu ‘ala qoffah ‘’ tidur dengan tengkoknya, leher bagian belakang atau terlentang atau dia berbaring ‘ ‘,mubtaji’’ dan seterusnya. Kecuali kalau dia bangun dalam  posisi sudah berubah, ketika di awal tidur sampai dia terjaga waktu dia sadar kembali bangun ternyata posisinya masih rapat  antara dubur dengan tempat  duduknya maka itu tidak membatalkan wudu di dalam hadits baginda Rasulullah saw bersabda :

‘’ Kedua mata ini di gambarkan di perumpamakan seperti ikatan ,ikatan tali dubur ketika mata sudah tertidur  kita sudah tidak sadar lagi sudah  tertidur maka tali ikatan dubur kita terlepas’’
kita tidak bisa mengontrol  apa yang keluar dari dubur kita apakah ada sesuatu yang keluar baik angin maupun yang lainya kita ga sadar kita ga tau kecuali kalau rapat tadi antara dubur dengan  tempat duduknya tidak ada cela maka tidak membatalkan wudu ‘’ waman nama fal ya tawado ‘’ dalam hadits yang lain, siapa yang tidur maka hendaklah  iya berwudu
Tapi wudu juga bukan hanya ketika kita akan shalat, pas mau shalat kita baru wudu
Masuk  Masjid juga di sunahkan berwudu, ketika akan menghadiri majelis majelis ilmu seperti ini, majelis dzikir, majelis shalawat juga kita  di sunahkan berwudu dan masih banyak lagi sunah sunah yang harus kita perhatikan khusus nya di dalam bab wudu .

Yang berikutnya yang ketiga :  Yang membatalkan wudu adalah seseorang menyentuh kemaluan depan (kubul) baik laki maupun perempuan maupun (duburnya) bagian belakang tapi kemaluan dan dubur manusia . Sementara menyentuh, memegang kemaluan dan dubur binatang tidak membatalkan wudu, tidak membatalkan wudu, karena yang disebut ‘’ damiyin ‘’ kubul dan dubur manusia memegang menyentuh kemaluan hewan, bintang  depan maupun bagian  belakangnya tidak membatalkan wudu, yang membatalkan kemaluan kubul dan dubur manusia . Baik miliknya kemaluan dia sendiri  maupun orang lain, walaupun seorang ibu menyentuh kemaluan anaknya yang masih bayi, ketika dia akan menyusui, atau ketika dia akan memandikan putra putrinya yang masih kecil sekalipun yang baru lahir yang masih bayi baru lahir tetep membatalkan wudu.

Namun yang membatalkan wudu ketika kita menyentuh dengan telapak tangan, dengan telapak tangan telapak jari jari, bagian telapak sementara bagian punggungnya tidak membatalkan wudu ketika seseorang mungkin dia akan menyentuh menggaruk kemaluanya dengan punggung tangan ini tidak membatalkan wudu, boleh .
Karena yang membatalkan hanya telapak tangan yang segi empat ini dan telapak jari jari adapun telapak jari , ketika kita gabungkan seperti ini (beliau habib alwi sambil menggabungkan kedua telapak tangan)  keduanya kanan dan kiri bagian yang tidak terlihat itulah yang ketika kita menyentuh kemaluan membatalkan wudu, sementara kalau yang ibham ( ibu jari, jempol) ketika kita rapatkan keduanya seperti ini ( merapatkan jempul ) namun ketika seseorang dia menyentuh kemaluan seperti orang laki memegang kemaluanya lalu dengan jari ,bagian samping ini tidak membatalkan wudu dengan bagian sampingnya karena inikan bagian yang terlihat sementara yang membatalkan itu, yang membatalkan ketika kita menyentuh dengan bagian yang tidak terlihat ,ketika rapatkan seperti ini ( merapatkan telapak tangan ) adapun bagian sampingnya maka tidak membatalkan  wudu ketika kita menyentuhnya  dengan telapak tangan dan telapak jari jari ,  baik yang sudah baligh yang besar maupun yang masih kecil alias yang belum baligh, sekalipun anaknya sendiri sekalipun si orang tua bapak dan ibu mnyentuh kemaluan anaknya sendiri, atau bagian belakangnya walaupun yang kita sentuh itu yang sudah mayit, yang sudah wafat, yang sudah menjadi janazah, yang sudah menjadi mayit, sementara jenazah di dalam bahasa arab kalau mayit itu sudah di letakan di dalam keranda  mayat, sudah di letakan di keranda mayat atau kurung batang itu baru di sebut janazah. Ketika masih di gletakan begitu belum di letakan di kurung batang masih namanya mayit dan ‘’ Anna’as ‘’ kurung batang yang sudah ada janazahnya yang sudah ada penumpangnya atau penghuninya di sebut jinazah, ada Janazah ada Jinazah sebagaimana Wudu dan Wadu, Wudu : berwudu  , sementara Wadu air yang di gunakan untuk berwudu, air yang di gunakan untuk berwudu di sebut AL Wadu bil fathil wawi dengan di baca fathah huruf wawunya .

Kemarin juga beberapa waktu yang lalu ada Al Guzlu, ALGhazlu ,dan ALGhizlu , al ghuzlu mandi al ghazlu membasuh atau mencuci al ghislu alat atau sesuatu yang di campur atau yang di gunakan untuk mandi seperti sabun atau yang lainya

Sekalipun anaknya sendiri sekalipun mayit  .Semoga Allah SWT limpahi keberkahan kepada kita sekalian anak istri keluarga kita ilmu ilmu yang kita dapatkan yang kita baca dari kitab ini bermanfaat bagi kita dan kita di anugrahkan taufik oleh Allah SWT ,sehingga kita dapat menjaga memelihara dawamul wudu senantiasa dalam  keadaaan berwudu di manapun kita berada dalam kondisi situasi apapun yang kita hadapi selalu biasakan kita dalam keadaan berwudu dan bersuci karena berwudu meerupakan  Silahul mu’min.

Wudu adalah senjata orang yang beriman bukan dari mara bahaya bencana dan musibah namun juga yang paling utama dari godaan syetan dari maksiat dan dosa kepada Allah SWT
Wasalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Jalsatul Itsnain 5 Januari 2015

Masjid Raya Almunawar

Alhabib Alwi bin Utsman bin Yahya

 

Raih pahala, sebarkan kebaikan..

Comments are closed.