Khutbah Rasulullah saw di Hari Terakhir Bulan Sya’ban, Senin, 9 Agustus 2010

Khutbah Rasulullah saw di Hari Terakhir Bulan Sya’ban
Senin, 9 Agustus 2010


عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ :


كَانَ رَسُولُ اللَّه صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ النَّاسِ ، وَكَانَ أَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِى رَمَضَانَ حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ ، وَكَانَ يَلْقَاهُ فِى كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ فَيُدَارِسُهُ الْقُرْآنَ ، فَلَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدُ بِالْخَيْرِ مِنَ الرِّيحِ الْمُرْسَلَةِ

( صحيح البخاري )

Dari Ibnu Abbas RA. Berkata:
“Rasulullah SAW adalah orang yang paling dermawan. Dan kedermawanannya lebih lagi pada bulan Ramadhan ketika Jibril menemuinya, dan Jibril menemuinya setiap malam di bulan Ramadhan untuk tadarus Al-Qur’an. Sungguh Rasulullah SAW lebih murah hati melakukan kebaikan daripada angin yang berhembus”. ( Shahih Al Bukhari)

{mosimage}Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

حَمْدًا لِرَبٍّ خَصَّنَا بِمُحَمَّدٍ وَأَنْقَذَنَا مِنْ ظُلْمَةِ الْجَهْلِ وَالدَّيَاجِرِ اَلْحَمْدُلِلّهِ الَّذِيْ هَدَاناَ بِعَبْدِهِ الْمُخْتَارِ مَنْ دَعَانَا إِلَيْهِ بِاْلإِذْنِ وَقَدْ ناَدَانَا لَبَّيْكَ ياَ مَنْ دَلَّنَا وَحَدَانَا صَلَّى اللهُ وَسَلّمَّ وَبَارَكَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ اَلْحَمْدُلِلّهِ الَّذِيْ جَمَعَنَا فِي هَذَا الْمَجْمَعِ اْلكَرِيْمِ وَالْحَمْدُلله الَّذِي جَمَعَنَا فِي هَذِهِ السَّاعَةِ وَفِيْ هَذَا الشَّهْرِ اْلعَظِيْمِ…

Limpahan puji kehadirat Allah subhanahu wata’ala Yang Maha Luhur, Yang Maha melimpahkan keluhuran kepada hamba-hambaNya, Maha menjadikan waktu dan tempat sebagai alat untuk mencapai keluhuran yang agung, Maha membuka rahasia keluhuran pada waktu-waktu dan tempat. Ketahuilah pada hari-hari kehidupanmu itu terdapat anugerah Ilahiyah maka dapatkanlah, maka capailah.
Hadirin hadirat, rahasia kedermawanan Ilahi yang membuka cahaya keluhuran padaku dan kalian, hingga memanjakan kita pada kelompok yang terluhur, ummat sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, beliaulah matahari keridhaan Allah subhanahu wata’ala yang Allah sebutkan dalam firmanNya :

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ إِنَّا أَرْسَلْنَاكَ شَاهِداً وَمُبَشِّراً وَنَذِيراً ، وَدَاعِياً إِلَى اللَّهِ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجاً مُّنِيراً ( الأحزاب : 45-46 )

“Wahai nabi, sesungguhnya Kami mengutusmu untuk menjadi saksi, dan pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan. Dan untuk menjadi penyeru kepada Allah dengan izin-Nya dan untuk menjadi cahaya yang terang benderang”. (QS. Al Ahzaab : 45-46)

Pelita yang terang benderang adalah gelar dari Allah subhanahu wata’ala untuk sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Maka fahami makna pelita yang terang benderang yang digelarkan oleh Allah untuk sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwa tiada cahaya yang lebih terang benderang dari semua cipataan Allah melebihi sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, menerangi jiwa dan sanubari dengan cahaya keridhaan Ilahi, menerangi jiwa dan sanubari dengan mahabbatullah warasuluh (cinta kepada Allah dan RasulNya), maka terbitlah rahasia keluhuran dari Rabbul ‘alamin yang mengeluarkan manusia dari kegelapan dosa menuju keluhuran. Allah subhanahu wata’ala membuka hidayah itu dengan tuntunan sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, sebagaimana Allah menerangi bumi dengan matahari, sebagaimana Allah memberi manusia minum dengan air, sebagaimana Allah memberi manusia makan dengan hewan dan tumbuhan, maka Allah memberi manusia keluhuran iman dengan sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah
Setiap detak nafas kita adalah bukti kedermawanan Allah kepada kita, tiada yang lebih dermawan kepada kita melebihi Allah. Satu nafas kita jauh lebih berharga dari seluruh alam semesta, jika kita memiliki seluruh alam semesta maka semua itu tidak akan bisa membeli satu nafas pun untuk memperpanjang usia kita, sungguh jika semua alam semesta kita dapatkan maka satu anugerah nafas kita jauh lebih berharga dari itu, dan anugerah satu nafas yang lebih berharga dari semua alam semesta itu, Allah berikan lebih dari seratus ribu kali setiap harinya kepada kita, kepada yang beriman dan yang kufur, kepada yang shalih dan yang pendosa, kepada yang jahat dan kepada yang baik, maka adakah yang lebih dermawan dari Allah ? , adakah yang lebih baik dariNya ? adakah yang lebih banyak anugerahnya melebihiNya ?, adakah yang lebih berkasih sayang kepada hambaNya daripadaNya?, sebagaiman firmanNya :

إِنَّ اللّهَ بِالنَّاسِ لَرَؤُوفٌ رَّحِيمٌ ( البقرة : 143 )

” Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia “. ( QS. Al Baqarah : 143 )

Namun jangan kecewakan perasaan dzat Yang paling mencintaimu, paling memeliharamu, paling dermawan kepadamu, Dialah Yang apaling baik kepada kita dari semua yang baik, dan Dialah Yang mengganjar setiap perbuatan baik kita sepuluh kali lebih besar hingga tujuh ratus kali dan lebih , sedangkan membalas perbuatan dosa hanya dengan satu dosa saja, dan Allah subhanahu wata’ala juga menyiapkan pengampunan atas dosa-dosa, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam riwayat Shahih Muslim :

اَلصَّلَوَاتُ الخَمْسُ وَ الجُمْعَةُ إِلَى الْجُمْعَةِ وَ رَمَضَان إِلَى رَمَضَان مُكَفِّرَاتُ مَا بَينَهُمَا إِذَا اجْتُنِبَتِ الْكَبَائِرُ

” Jarak antara shalat lima waktu, shalat jum’at dengan jum’at berikutnya dan puasa Ramadhan dengan Ramadhan berikutnya merupakan penghapus dosa-dosa yang ada diantaranya, apabila menjauhi dosa-dosa besar”. (HR Muslim)

Demikian rahasia pengampunan Ilahi yang ditebarkan dalam waktu-waktu yang berjalan yang selalu dilewati oleh kita, roda waktu terus berputar menggulung usia kita sehingga semakin dekat dengan kematian, dan setiap detik yang kita lewati tidak akan pernah bisa kembali kepada kita selama-lamanya, roda itu terus menggulung usia kita, mencetak semua perbuatan kita yang baik atau yang buruknya sehingga kita mencapai kematian kelak, semoga dalam husnul khatimah , semoga hari-hari kita selalu dalam kedermawanan Allah , jika sudah dalam kedermawanan Allah semoga Allah tambahkan lagi kedermawananNya. Wahai Allah, kami telah bershadaqah kepada para fuqara’ dan hamba-hamba yang membutuhkan, dan Engkau lebih berhak bershadaqah kepada kami karena kami adalah fuqara’ dihadapanMu, kami adalah hamba-hamba yang miskin di hadapanMu, maka sedekahilah kami wahai Allah dengan pengampunan dan kelembutan, dengan kebahagiaan dan kedamaian dan dengan apa-apa yang kami minta serta berilah kami lebih dari yang kami minta wahai Allah.

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah
Berikut saya sampaikan khutbah sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam di hari terakhir bulan Sya’ban untuk menyambut Ramadhan, hadits ini riwayatnya lemah namun teriwayatkan lebih dari 25 riwayat, dan pada makna-makna kalimatnya didukung oleh hadits-hadits shahih, maka pada hakikatnya meskipun hadits ini riwayatnya lemah namun merupakan perpaduan hadits-hadits shahih yang terpecah, dan riwayat diatas merupakan riwayat yang merangkum kesemuanya. Maka berikut ini khutbah beliau di akhir bulan Sya’ban seraya menyambut bulan Ramadhan :

أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ أَظَلَّكُمْ شَهْرٌ عَظِيْمٌ، شَهْرٌ مُبَارَكٌ، شَهْرٌ فِيْهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ، جَعَلَ اللهُ صِيَامَهُ فَرِيْضَةً، وَقِيَامَ لَيْلِهِ تَطَوُّعًا، مَنْ تَقَرَّبَ فِيْهِ بِخِصْلَةٍ مِنَ الْخَيْرِ، كَانَ كَمَنْ أَدَّى فَرِيْضَةً فِيْمَا سِوَاهُ، وَمَنْ أَدَّى فِيْهِ فَرِيْضَةً كَانَ كَمَنْ أَدَّى سَبْعِيْنَ فَرِيْضَة فِيْمَا سِوَاهُ، وَهُوَ شَهْرُ الصَّبْرِ، وَالصَّبْرُ ثَوَابُهُ الْجَنَّةُ، وَشَهْرُ الْمُوَاسَاةِ، وَشَهْرٌ يَزْدَادُ فِيْهِ رِزْقُ الْمُؤْمِنِ، مَنْ فَطَّرَ فِيْهِ صَائِمًا كَانَ مَغْفِرَةً لِذُنُوْبِهِ، وَعِتْقَ رَقَبَتِهِ مِنَ النَّارِ، وَكَانَ لَهُ مِثْلَ أَجْرِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْتَقِصَ مِنْ أَجْرِهِ شَيْءٌ،
قَالُوْا: لَيْسَ كُلُّنَا نَجِدُ مَا يفطرُ الصَّائِمُ
فَقَالَ : يُعْطِي اللهُ هَذَا الثَّوَابَ مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا عَلَى تَمْرَةٍ أَوْ شَرْبَةَ مَاءٍ أَوْ مَذقَةَ لَبَنٍ، وَهُوَ شَهْرٌ أَوَّلُهُ رَحْمَةٌ، وَأَوْسَطُهُ مَغْفِرَةٌ، وَآخِرُهُ عِتْقٌ مِنَ النَّارِ، مَنْ خَفَّفَ عَنْ مَمْلُوْكِهِ غَفَرَ اللهُ لَهُ، وَأَعْتَقَهُ مِنَ النَّارِ، وَاسْتَكْثِرُوْا فِيْهِ مِنْ أَرْبَعِ خِصَالٍ، : خِصْلَتَيْنِ تَرْضْوَنِ بِهِمَا رَبَّكُمْ، وَخِصْلَتَيْنِ لَا غِنًى بِكُمْ عَنْهُمَا، فَأَمَّا الْخِصْلَتَانِ اللَّتَانِ تَرْضَوْنَ بِهِمَا رَبَّكُمْ فَشَهَادَةُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَتَسْتَغْفِرُوْنَهُ، وَأَمَّا اللَّتَانِ لَا غِنَى بِكُمْ عَنْهُمَا فَتَسْأَلُوْنَ اللهَ الْجَنَّةَ وَ تَعُوْذُوْنَ بِهِ مِنَ النَّارِ، وَمَنْ أَشْبَعَ فِيْهِ صَائِمًا سَقَاهُ اللهُ مِنْ حَوْضِيْ شَرْبَةً لَا يَظْمَأُ حَتَّى يَدْخُلَ الْجَنَّةَ.

Artinya:
” Wahai manusia, sunguh telah dekat kepadamu bulan yang agung, bulan yang penuh dengan keberkahan, yang didalamnya terdapat satu malam yang lebih baik (nilainya) dari seribu bulan, bulan yang mana Allah tetapkan puasa di siang harinya sebagai fardhu, dan shalat (tarawih) di malamnya sebagai sunah. Barang siapa mendekatkan diri kepada Allah di bulan ini dengan satu kebaikan (amalan sunnah), maka pahalanya seperti dia melakukan amalan fardhu di bulan-bulan yang lain. Barangsiapa melakukan amalan fardhu di bulan ini, maka pahalanya seperti telah melakukan 70 amalan fardhu di bulan lainnya. Inilah bulan kesabaran dan balasan atas kesabaran adalah surga, bulan ini merupakan bulan kedermawanan dan simpati (satu rasa) terhadap sesama. Dan bulan dimana rizki orang-orang yang beriman ditambah. Barang siapa memberi makan (untuk berbuka) orang yang berpuasa maka baginya pengampunan atas dosa-dosanya dan dibebaskan dari api neraka dan dia mendapatkan pahala yang sama sebagaimana yang berpuasa tanpa mengurangi sedikitpun pahala orang yang berpuasa .
Mereka (para sahabat) berkata : “Wahai Rasulullah! tidak semua dari kami mempunyai sesuatu yang bisa diberikan kepada orang yang berpuasa untuk berbuka.”
Rasulullah menjawab: “Allah akan memberikan pahala ini kepada orang yang memberi buka puasa walaupun dengan sebiji kurma, atau seteguk air, atau setetes susu”. Inilah bulan yang permulaannya (sepuluh hari pertama) Allah menurunkan rahmat, yang pertengahannya (sepuluh hari pertengahan) Allah memberikan ampunan, dan yang terakhirnya (sepuluh hari terakhir) Allah membebaskan hamba-Nya dari api neraka . Barangsiapa yang meringankan hamba sahayanya di bulan ini, maka Allah SWT akan mengampuninya dan membebaskannya dari api neraka. Dan perbanyaklah melakukan empat hal di bulan ini, yang dua hal dapat mendatangkan keridhaan Tuhanmu, dan yang dua hal kamu pasti memerlukannya. Dua hal yang mendatangkan keridhaan Allah yaitu syahadah (Laailaaha illallaah) dan beristighfar kepada Allah, dan dua hal yang pasti kalian memerlukannya yaitu mohonlah kepada-Nya untuk masuk surga dan berlindung kepada-Nya dari api neraka . Dan barang siapa memberi minum kepada orang yang berpuasa (untuk berbuka), maka Allah akan memberinya minum dari telagaku (Haudh) dimana dengan sekali minum ia tidak akan merasakan haus sehingga ia memasuki surga “.

Hadirin hadirat di bulan Ramadhan Allah luaskan rizki hamba-hamba yang beriman, semoga aku dan kalian termasuk orang yang beriman dan diluaskan rizki kita oleh Allah di bulan Ramadhan, rizki yang zhahir dan rizki yang bathin, maka tidak berpengaruh bagi kita dengan kenaikan beras, kenaikan harga minyak, dan kenaikan harga sembako yang lainnya jika Allah naikkan pula limpahan rizkinya, inilah janji Rabbul ‘alamin di bulan Ramadhan, dan tentunya juga Allah beri keluasan rizki bathin kita sehingga kita diberi kekuatan untuk berpuasa di bulan Ramadhan, semoga yang sakit di bulan Ramadhan diberi kesembuhan, semoga yang masih sulit untuk menjalankan puasa Ramadhan diberi kemampuan untuk menjalankannya, dan yang sudah mampu menjalankannya semoga diberi kekuatan untuk menjalankan puasanya
lebih sempurna, puasa panca inderanya, puasa hatinya, sehingga mencapai pada tingkatan puasa khawas al khawas ( puasa para nabi dan shiddiqin ) puasanya orang yang penuh kecintaan dan keikhlasan, yang senantiasa memikirkan Allah dalam hati dan pikirannya dan menghindarkan diri dari segala hal duniawi yang menjadikannya lalai terhadap Allah. Dan semoga Allah memberikan kita kekuatan untuk bisa melakukan shalat tarawih di setiap malam-malam luhur ini, amin.

Hadirin hadirat, dan orang yang memberi buka orang yang berpuasa akan diberi pengampunan dan dibebaskan dari api neraka, serta mendapatkan pahala puasa. Menurut pendapat saya hamba yang dha’if ini bahwa konvoi untuk membagikan makan sahur itu sungguh mulia, tetapi untuk pahalanya maka lebih mulia orang yang membagikan buka puasa. Apalagi ketika di jalan macet saat waktu berbuka puasa, kemana orang-orang akan berbuka puasa? Maka di saat itu jika ada yang membagikan sesuatu untuk berbuka puasa walaupun sekedar segelas aqua, atau beberapa butir kurma saja maka baginya penghapusan dosa dan Allah bebaskan dia dari api neraka, dan ia dapatkan pula pahala puasa itu tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa, dan jika orang yang diberi buka puasa mempunyai kekurangan dalam puasanya, maka orang yang memberi puasa akan mendapatkan pahala puasa yang sempurna. Namun bukan berarti kita tidak perlu berpuasa dengan hanya memberi makan orang yang berpuasa saja tidak begitu, kewajiban berpuasa bagi kita tidak hilang. Maka berlipat ganda pahala orang yang memberi makan orang yang berpuasa di bulan Ramadhan. Saya teringat habaib kita terdahulu, diantaranya almaghfurlah Al Habib Umar bin Hud Al Atthas dimana di setiap harinya di bulan Ramadhan beliau menyembelih seekor kambing dan menjamu siapa saja yang mau datang untuk berbuka puasa di rumahnya, dan banyak dari para salafusshalih yang melakukan hal seperti itu.
Maka saat Rasulullah menyampaikan khutbah itu ada sahabat yang berkata : ” wahai Rasulullah, tidak semua dari kami yang mampu untuk memberi makanan untuk orang yang berpuasa “, Rasulullah menjawab : “Allah akan memberikan pahala ini kepada orang yang memberi buka puasa walaupun dengan sebiji kurma, atau seteguk air, atau setetes susu”, maka mereka akan mendapatkan pahalanya meskipun tidak bisa menjamu dengan makanan yang sempurna. Dan bulan Ramadhan adalah bulan yang awalnya adalah rahmah, pertengahannya adalah pengampunan Allah dan terakhirnya adalah pembebasan dari api neraka. Dan barangsiapa yang meringankan beban budaknya di bulan Ramadhan ini maka Allah juga akan mengampuninya dan membebaskannya dari api neraka. Tetapi kita tidak mempunyai budak karena zaman kita sekarang tidak ada lagi perbudakan maka pahala itu mungkin akan kita dapatkan dengan meringankan beban orang yang bekerja kepada kita, baik staf-staf kita atau para pembantu kita, ringankan beban mereka agar kita mendapatkan pahala pengampunan dari Allah subhanahu wata’ala . Dan Rasulullah menganjurkan kita pada bulan Ramadhan untuk memperbanyak 4 hal, yang 2 hal adalah sesuatu yang diridhai Allah dan 2 hal lagi adalah sesuatu yang sangat penting bagi kita. Dua hal yang menjadikan Allah ridha adalah syahadah ( Laailaaha illallah ) dan beristighfar kepada Allah, sedangkan 2 hal yang sangat penting bagi kita adalah meminta surga dan meminta dijauhkan dari api neraka, sebagaimana yang selalu kita baca :

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلهَ إِلَّا الله أَسْتَغْفِرُ اللهَ أَسْأَلُكَ الْجَنَّةَ وَأَعُوْذُ بِكَ مِنَ النَّارِ

” Saya bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah, aku memohon ampunan Allah, aku memohon sorga kepadaMu, dan aku berlindung kepadaMu dari neraka “.

Darimana asal bacaan ini? Itulah dalilnya yang dimaksud dalam khutbah Rasulullah untuk memperbanyak 4 hal di bulan Ramadhan yaitu syahadat, istighfar, meminta surga , dan berlindung kepada Allah dari api neraka. Dan barangsiapa yang mengenyangkan orang yang berpuasa ( kalau yang tadi adalah yang memberi buka orang yang berpuasa ), maka Allah akan memberinya minum dari telaga (haudh) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, yang jika meminum seteguk dari telaga itu maka ia tidak akan merasakan haus sampai ia masuk ke sorga, dan dalam riwayat lain ia tidak akan merasakan haus selama-lamanya.

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah
Di bulan yang digelari bulan seribu sujud ini, kita melakukan puasa semampunya dengan terus berdoa kepada Allah, mungkin sebagian adik-adik kita ada yang masih belum mampu berpuasa Ramadhan di tahun-tahun yang lalu, atau mungkin saudara saudari kita yang di tahun-tahun lalu belum berpuasa Ramadhan semoga di tahun ini Allah berikan kemampuan untuk berpuasa Ramadhan, amin. Salah satu cara untuk mempermudah orang yang sulit melakukan puasa Ramadhan itu adalah dengan memperbanyak minum daripada makan di saat sahur, karena rasa lapar itu tertutup juga dengan banyaknya minum, dan usahakan banyak makan yang manis-manis di saat sahur, karena yang manis-manis itu mengenyangkan. Oleh karena itu Rasulullah memakan kurma, karena kurma itu sangat manis dan mengenyangkan, dan tidak ada gunanya jika banyak makan di saat sahur karena tetap saja makanan itu tidak akan dicerna oleh tubuh kecuali sesuai kebutuhan saja dan selebihnya terbuang, tetapi kalau minuman itu akan masuk ke seluruh jaringan sel tubuh kita dan akan memberi kekuatan di siang harinya. Hadirin hadirat, sebagian orang bertanya bolehkan kita bersikat gigi di siang hari bulan Ramadhan?, boleh saja, walaupun sunnahnya adalah tidak menggosok gigi sebagaimana hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam riwayat Shahih Al Bukhari beliau bersabda :

لَخُلُوفُ فَمِ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ

” Sesungguhnya bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada bau misk”

Banyak yang bertanya mengapa mulut orang yang berpuasa itu aromanya tidak sedap?, hal itu adalah hikmah agar kita tidak banyak berbicara ketika saat berpuasa, karena banyak berbicara akan mengarah kepada menggunjing, mencaci, dan lainnya sehingga membuat pahala puasanya berkurang, dan banyak berbicara itu akan menghabiskan cairan di mulut dan membuat tenggorokan kering, sungguh demikian indahnya Allah mengatur dengan membuat aroma tidak sedap dari mulut kita di saat berpuasa, hal itu merupakan kelembutan Allah subhanahu wata’ala bukan berarti Allah suka dengan aroma yang tidak sedap, tetapi yang dimaksud adalah orang yang berpuasa yang melihat aroma yang tidak sedap dari mulutnya dan ia bersabar, maka itulah yang dihargai oleh Allah subhanahu wata’ala. Kalau bersikat gigi untuk menghilangkan aroma yang tidak sedap boleh tidak?, boleh saja dan tidak membatalkan puasa, mau sehari 3x bersikat gigi asalkan tidak tertelan kedalam mulut , namun tentunya tidak mendapatkan pahala sunnahnya.

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah
Dalam hal bersiwak para ulama’ berikhtilaf dalam hal ini, sebagian mengatakan boleh hingga waktu dhuha, sebagian mengatakan hingga waktu zawal, sebagian mengatakan hingga waktu Asar, namun para salafusshalih yang saya ketahui dan kita pegang memperbolehkan siwak di sepanjang waktu di bulan Ramadhan. Dan berkumpul dengan istri di malam hari bulan Ramadhan tidak dilarang bahkan hal itu sunnah nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam , namun diharamkan secara mutlak melakukannya di siang hari. Dan pembahasan fiqh tentang masalah puasa akan kita perjelas di setiap majelis malam Selasa dan majelis-majelis lainnya Insyaallah, majelis ini terus berlanjut tidak ada liburnya di bulan Ramadhan. Akhir dari penyampaian saya, sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam riwayat Shahih Al Bukhari:

إِنَّ فِي الْجَنَّةِ بَابًا يُقَالُ لَهُ الرَّيَّانُ ، يَدْخُلُ مِنْهُ الصَّائِمُوْنَ يَوْمَ اْلقِيَامَةِ ، لَا يَدْخُلُ مَعَهُمْ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ . يُقَالُ أَيْنَ الصَّائِمُوْنَ فَيَدْخُلُوْنَ مِنْهُ ، فَإِذَا دَخَلَ آخِرُهُمْ ، اُغْلِقَ فَلاَ يَدْخُلُ مِنْهُ أَحَدٌ

“Sesungguhnya di dalam Surga itu terdapat pintu yang dinamakan Ar-Rayyan.
Kelak di hari kiamat orang yang berpuasa akan masuk melalui pintu tersebut, dan tidak boleh masuk bersama mereka seorangpun selain mereka. Kelak akan ada ditanyakan : “Di manakah orang yang berpuasa?”, maka mereka berduyun-duyun masuk melalui pintu tersebut, setelah orang yang terakhir dari mereka telah masuk, pintu itu ditutup kembali dan tidak ada lagi orang lain yang akan memasukinya.”

Siapakah orang yang berpuasa?, semoga aku dan kalian, amin. Diriwayatkan di dalam Shahih Muslim bahwa Rasulullah bersabda di hadapan sayyidina Abu Bakar As Shiddiq RA bahwa orang yang masuk ke dalam surga itu masing-masing mempunyai pintu, orang yang berpuasa masuk dari pintu Ar Rayyan, orang yang bershadaqah masuk dari pintu shadaqah, yang berjihad masuk dari pintu jihad, masing-masing mempunyai pintu, maka sayyidina Abu Bakr berkata : ” Wahai Rasulullah, bisakah kami masuk dari semua pintu itu ?”, maka Rasulullah menjawab : ” ya, dan aku berharap engkau di antara mereka “. Semoga kita semua dipanggil dari semua pintu surga Allah, amin.

Dan mengenai shalat tarawih, ikhtilaf mengenai 23 rakaat dan 11 rakaat, hal ini merupakan hal yang selalu dipergunjingkan, maka saya perjelas bahwa tidak ada satu madzhab pun yang melakukan shalat tarawih kurang dari 20 rakaat , hanya madzhab Imam Malik yang melakukan shalat tarawih 38 rakaat dan witir 3 rakaat maka menjadi 41 rakaat dan itupun hanya di Masjid An Nabawy tidak di masjid lainnya, selain itu kesemuanya melakukan shalat tarawih 20 rakaat ditambah 3 rakaat witir. Bagi yang melakukan tarawih 8 rakaat tidak ada larangannya, karena shalat tarawih dalah sunnah, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam :

مَنْ قاَمَ رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَ احْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barangsiapa yang berdiri (melakukan shalat malam) di bulan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka diampuni dosa-dosanya telah lalu.”

Hal ini menunjukkan bahwa berapapun jumlah rakaatnya, maka boleh-boleh saja, tetapi sungguh seluruh madzhab tidak ada yang melakukan shalat tarawih kurang dari 20 rakaat, dan sebaiknya kita mengikuti pendapat jumhur para madzhab yaitu tarawih 20 rakaat dan witir 3 rakaat, karena orang yang shalat tarawih 20 rakaat berarti ia bersujud sebanyak 40 kali sujud dalam semalam (1 rakaat adalah 2x sujud), jika selama satu bulan berarti ia bersujud sebanyak 1200 kali sujud. Maka ketika bulan Ramadhan kita bersujud lebih dari 1000 kali sujud, dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

أَقْرَبُ اْلعَبْدُ إِلَى اللهِ مَنْزِلَةً وَهُوَ سَاجِدٌ

“Keadaan yang paling dekat antara seorang hamba dengan Allah SWT yaitu ketika dia sedang sujud”.

Ramadhan adalah bulan seribu sujud, semoga aku dan kalian dimuliakan oleh Allah dengan kemuliaan bulan seribu sujud, dan semoga Allah subhanahu wata’ala limpahkan kepada kita pengampunan, dan pembebasan dari api neraka, amin. Hadits yang tadi kita baca, tidak perlu terlalu dijelaskan karena maknanya sudah jelas bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah orang yang paling dermawan, dan beliau lebih dermawan lagi di bulan Ramadhan, demikian hadits yang diriwayatkan oleh Ibn Abbas RA. Dan di bulan Ramadhan disunnahkan membaca Al qur’an karena Rasulullah bersama Jibril juga membaca Al qur’an di bulan Ramadhan. Al Imam Ibn Hajar mengatakan 2 hal dalam maslah ini, yaitu : pertama, sunnah di bulan Ramadhan memperbanyak membaca Al qur’an. Kedua, sunnah pula di bulan Ramadhan membaca al qur’an tidak sendiri, karena Rasulullah membaca Al quran berdua dengan Jibril As. Jadi sunnah membaca Al qur’an berdua atau beramai-ramai, yang satu membaca dan yang lainnya mendengarkan, dan terus bergantian. Dan kedermawanan Rasulullah lebih dari angin yang berhembus, maksudnya tidak berhenti memberi dan memberi, begitulah kedermawanan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Saya tidak memperpanjang lagi, ada beberapa hal yang perlu saya umumkan bahwa malam 17 Ramadhan sebagaimana kita ketahui malam Nuzul Al Qur’an dan Haul Ahlu Badr kita melakukan acara akbar di malam itu, sebagaimana guru mulia kita Al Musnid Al Habib Umar Bin Muhammad bin Hafizh juga melakukan Haul Ahlul Badr di malam 17 Ramadhan, dan waktunya jam 21.00

walaupun waktunya sama dengan acara khatam di Luar Batang namun acara khatam di Luar Batang lebih dahulu, maka yang mau hadir khatam di Luar Batang silahkan kemudian lanjut ke Monas, barangkali akan mendapatkan permulaan acara atau pertengahannya. Insyaallah acara ini sukses, dan semoga Allah subhanahu wata’ala memberikan kemudahan kepada kita dalam perjuangan kita dan kehidupan kita, amin allahumma amin.

Dan yang perlu saya sampaikan juga majelis malam Rabu mulai diaktifkan untuk majelis Asmaul Husna, jadi Maulid nya disingkat lalu dilanjutkan dengan doa Asmaul Husna dan diteruskan dengan 7 munajat para imam besar, yaitu Al Imam Abu Bakr Al Aidarus Al ‘Adany, dan 2 munajat Al Imam Abdullah bin Ali Al Haddad, dan Al Imam Ali bin Muhammad Al Habsy Shahib Simtuddurar, dan munajat Al Habib Muhammad Al Haddar, dan munajat Al Imam Abdullah bin Husain bin Thahir, dan munajat Al Imam Fakhrul Wujud As Syaikh Abu Bakr bin Salim.

Untuk malam Rabu besok masih kosong karena tidak ada acara di awal malam Ramadhan, padahal sebenarnya di awal Ramadhan paling banyak anugerah dilimpahkan. Demikian hadirin hadirat, Syahr Mubarak selamat menjalankan ibadah puasa semoga Allah memberi kita kekuatan untuk menyempurnakan puasa kita, amin. Kita berdoa dengan bertawassul kepada Ahlul Badr, orang-orang yang sangat mulia, bersatu disana para ahlu bait Rasulullah, para muhajirin dan Anshar dan para budak bersatu menjadi satu pasukan pendukung sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, maka kita bertawassul kepada Ahlul Badr untuk ketentraman dan kemaslahatan muslimin muslimat, kemudian kalimat talqin oleh guru kita Al Habib Hud bin Muhammad Baqir Al Atthas, Falyatafaddhal masykuura..

Raih pahala, sebarkan kebaikan..

Comments are closed.