Memperindah Wudhu, Senin 02 Juli 2012


M
emperindah Wudhu
Senin, 02 Juli 2012


سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ : لَا يَتَوَضَّأُ رَجُلٌ يُحْسِنُ وُضُوءَهُ وَيُصَلِّي الصَّلَاةَ إِلَّا غُفِرَ لَهُ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الصَّلَاةِ حَتَّى يُصَلِّيَهَا

(صحيح البخاري)

“Kudengar Rasulullah SAW bersabda : “Tiadalah seorang berwudhu dengan memperindah ( wudhu dengan sebaik-baiknya semampunya ), lalu shalat dua rakaat (sunnatul wudhu), kecuali Allah telah mengampuninya antara wudhunya dan shalatnya hingga ia melakukan shalatnya” (Shahih Bukhari)

Syarah Hadits oleh KH. Khairullah Ramli

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

فحمدا لرب خصنا بمحمد وأنقذنا من ظلمة الجهل والدياجر والحمدلله الذي شرف الأنام بصاحب المقام الأعلى، وأشهد أن إله إلا الله وحده لا شريك له وأشهد أن سيدنا ونبينا محمد ورسوله المصطفى ، اللهم صل وسلم وبارك وكرم على عبدك وحبيبك ورسولك سيدنا ومولانا محمد سيد أهل الأرض وسيد أهل السماء وعلى آله وأصحابه وتابعين لهم بإحسان إلى يوم اللقاء

Alhamdulillah atas keberkahan dari Allah subhanahu wata’ala yang telah mengumpulkan kita di majelis yang penuh ramhat Allah, majelis yang penuh dengan mahabbah (cinta) Allah subhanahu wata’ala, dan insyaallah mahabbah ini diberikan oleh Allah kepada kita di dunia dan di akhirat, amin ya rabbal ‘alamin.

Disebutkan dalam hadits yang kita baca tadi, bahwa sayyidina Utsman bin Affan mendengar nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Tiadalah seseorang berwudhu’ dan menyempurnakan wudhu’nya kemudian ia melakukan shalat (sunnah), melainkan Allah subhanahu wata’ala mengampuni dosanya hingga ia melakukan shalat (fardhu)”. Hal ini sebagai bukti bahwa Allah subhanahu wata’ala selalu menyayangi hamba-hambaNya yang beriman dan beramal shalih, sehingga banyak pintu ampunan Allah telah dibuka agar kita mendapatkan ampunan dari Allah subhanahu wata’ala. Dan tidak lama lagi akan datang malam Nisfu Sya’ban dan kita semua akan menghadirinya insyaallah, sehingga kita mendapatkan ampunan dari Allah subhanahu wata’ala, sebagaimana yang telah dikabarkan sayyidina Muhammad oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Adapun ampunan Allah yang ditawarkan kepada hambaNya yang beriman dalam hadits ini adalah dengan melakukan wudhu’ secara benar dan sempurna kemudian mengerjakan shalat sunnah wudhu’, maka dengan melakukan hal ini seseorang akan mendapatkan janji Allah subhanahu wata’ala berupa ampunan atas dosa-dosa. Sedangkan untuk mendapatkan kesempurnaan wudhu’ yang pertama adalah harus memenuhi rukun dan syarat wudhu’, yang diantaranya air yang digunakan berwudhu’ haruslah air yang suci dan mensucikan, maka tidak boleh menggunakan air musta’mal (telah digunakan untuk bersuci) apalagi air yang najis. Begitu pula rukun-rukun wudhu’ harus terpenuhi yang diantaranya yaitu berniat untuk menghilangkan hadats kecil dibarengi dengan membasuh muka, kemudian membasuh kedua tangan hingga kedua siku, lalu membasuh sebagian kepala atau rambut kepala, kemudian membasuh kaki hingga mata kaki, dan yang terakhir adalah tertib yaitu membasuh anggota wudhu’ secara berurutan mulai dari membasuh wajah disertai dengan niat hingga membasuh kedua kaki, hal tersebut adalah rukun atau yang wajib dalam berwudhu’. Dan jika kita melakukan hal yang sunnah selain yang wajib dalam berwudhu’ maka wudhu’ kita akan semakin sempurna, banyak hal-hal sunnah dalam berwudhu’ yang dapat kita lakukan, diantaranya adalah diawali dengan membasuh kedua telapak tangan, berkumur-kumur, menghirup air ke dalam hidung kemudian mengeluarkannya, mendahulukan anggota yang kanan daripada yang kiri, membasuh setiap anggota sebanyak tiga kali, membasuh kedua telinga, dan lainnya. Begitu pula dalam berwudhu’ sebagaimana disebutkan oleh Al Imam Ghazali dalam kitab Bidayatul Hidayah terdapat doa-doa yang dibaca ketika membasuh setiap anggota wudhu’ baik yang wajib atau pun yang sunnah, yang mana jika kita membaca doa-doa tersebut tentunya wudhu’ kita akan semakin sempurna. Diantara hal-hal tersebut adalah ketika kita akan berwudhu’ maka disunnahkan untuk membasuh kedua telapak tangan dan membaca doa :

اَلْحَمْدُلله الَّذِيْ جَعَلَ الْمَاءَ طَهُوْرًا وَالْإسْلَامَ نُوْرًا، اَللّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ اْليُمْنَ وَاْلبَرَكَةَ وَأَعُوْذُ بِكَ مِنَ الشُّؤْمِ وَالْهَلَكَةِ

“ Segala puji bagi Allah yang telah menjadikan air suci dan mensucikan, dan menjadikan Islam sebagai cahaya , Ya Allah sesungguhnya aku memohon kepadaMu keberuntunga dan keberkahan, serta aku berlindung kepadaMu dari keputusasaan dan kehancuran”

Dan setelah membasuh kedua telapak tangan maka disunnahkan untuk bersiwak, namun dalam hal bersiwak para Ulama’ berbeda pendapat, diantara mereka mengatakan bahwa sunnah bersiwak ketika berwudhu’ itu dilakukan setelah membasuh kedua telapak tangan dan sebelum berkumur, dan ada yang mengatakan bahwa bersiwak dilakukan sebelum membasuh kedua telapak tangan. Jika bersiwak dilakukan sebelum membasuh kedua telapak tangan maka diharuskan untuk niat bersiwak untuk wudhu’, adapun jika bersiwak dilakukan setelah membasuh kedua telapak tangan maka tidak perlu niat bersiwak untuk wudhu’ karena telah masuk dalam niat sunnah wudhu’ yang diniatkan ketika mencuci kedua telapak tangan, jadi hanya dalam mencuci telapak tangan telah banyak sunnah yang dapat kita lakukan. Begitu juga hal yang sunnah yang dapat dilakukan dalam berwudhu’ adalah berkumur-kumur kemudian membaca doa :

اَللّهُمَّ أَعِنِّيْ عَلَى تِلَاوَةِ كِتَابِكَ وَكَثْرَةِ الذِّكْرِ لَكَ

“ Ya Allah bantulah aku untuk bisa membaca kitabMu (Alqur’an) dan bisa banyak mengingatMu”.

Begitu seterusnya hingga membasuh kedua kaki terdapat doa-doa tertentu sebagaiamana yang disebutkan oleh Al Imam Ghazali dalam kitab Bidayatul Hidayah. Maka doa-doa seperti di atas jika dibaca ketika melakukan wudhu’ maka wudhu’ pun menjadi semakin sempurna. Al Imam Ghazali mengatakan bahwa jika sesorang membaca doa-doa tersebut maka semua dosa sekujur tubuhnya akan diampuni oleh Allah subhanahu wata’ala, namun jika tidak membaca doa-doa tersebut maka dosa-dosa yang diampuni hanya pada anggota yang terkena air wudhu’ saja. Para Ulama’ seperti Al Imam Ar Ramli mengatakan bahwa doa-doa ketika membasuh anggota wudhu’ seperti disebut di atas merupakan hal yang sunnah. Sedangkan Al Imam An Nawawi mengatakan bahwa hadits yang membahas tentang doa-doa yang dibaca ketika membasuh anggota wudhu’ hal tersebut tidak ada dasarnya, dan para ulama’ mengatakan bahwa maksud dari ucapan Al Imam An Nawawi bahwa hal tersebut tidak ada dasarnya adalah dalam hadits Shahih, namun ada dalam selain hadits Shahih. Oleh sebab itu sebagian para Ulama’ mensunnahkan untuk membaca doa-doa tersebut, dan Al Imam Ghazali pun menguatkannya dalam kitab Bidayah Al Hidayah. Demikianlah diantara hal-hal yang dapat dilakukan untuk memperbagus atau menyempurnakan wudhu’. Dan setelah hal-hal tersebut dilakukan, kemudian melaksanakan shalat sunnah maka sebagaimana disebutkan dalam hadits tadi bahwa janji Allah berupa ampunan dari Allah subhanahu wata’ala akan didapatkan. Adapun memperbagus atau menyempurnakan wudhu’ merupakan sifat para shalihin, dimana ketika Al Imam As Syafi’i wafat dan sayyidah Nafisah ditanya tentang beliau, maka sayyidah Nafisah menjawab :

كَانَ يُحْسِنُ اْلوُضُوْءَ

“ Dulu beliau ( Al Imam As Syafi’i) selalu memperbagus wudhu’”

Kita ketahui bahwa Al Imam As Syafi’i mempunyai banyak amal ibadah, diantaranya ketika bulan Ramadhan beliau menghatamkan Al qur’an dua kali dalam sehari, dan selain bulan Ramadhan beliau menghatamkan Al qur’an sekali dalam sehari, namun hal yang paling dipuji oleh sayyidah Nafisah adalah wudhu’ beliau, dimana beliau ketika berwudhu’ selalu memperbagus dan menyempurnakannya. Maka hal ini menunjukkan bahwa orang-orang yang shalih senantiasa memperhatikan untuk memperbagus wudhu’. Begitu pula ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam perjalanan Isra’ Mi’raj, beliau mendengar suara terompah sayyidina Bilal di dalam surga, dan setelah kembali ke bumi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya kepada sayyidina Bilal : “Wahai Bilal, apa yang membuatmu mendahuluiku memasuki surga?”, maka sayyidina Bilal berkata : “wahai Rasulullah, aku tidak memiliki banyak amal, namun yang aku lakukan setiap aku selesai berwudhu’ maka aku mengerjakan shalat 2 rakaat”. Maka shalat sunnah wudhu’ 2 rakaat yang selalu dilakukan oleh sayyidina Bilal selesai berwudhu’ menjadikan sandal beliau mendahuluinya masuk ke surga. Maka pintu-pintu seperti terbuka luas untuk ummat sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam di sepanjang waktu dan zaman, dan kita pun akan mendapatkan kemuliaan dari Allah subhanahu wata’ala ketika kita senantiasa mengamalkan amalan-amalan sunnah seperti ini, mudah-mudahan Allah subhanahu wata’ala mencatat kita sebagai orang -orang shalih, diberkahi setiap amal perbuatan kita dan dilimpahi taufik dan hidayah untuk senantiasa menjalankan sunnah nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, sehingga dikumpulkan bersama beliau shallallahu ‘alaihi wasallam di hari kiamat, amin ya rabbal ‘alamin.

وبالله التويفق والهداية والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Tausiah Al Habib Munzir bin Fuad Al Musawa

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

حَمْدًا لِرَبٍّ خَصَّنَا بِمُحَمَّدٍ وَأَنْقَذَنَا مِنْ ظُلْمَةِ اْلجَهْلِ وَالدَّيَاجِرِ اَلْحَمْدُلِلَّهِ الَّذِيْ هَدَانَا بِعَبْدِهِ اْلمُخْتَارِ مَنْ دَعَانَا إِلَيْهِ بِاْلإِذْنِ وَقَدْ نَادَانَا لَبَّيْكَ يَا مَنْ دَلَّنَا وَحَدَانَا صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبـَارَكَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ اَلْحَمْدُلِلّهِ الَّذِي جَمَعَنَا فِي هَذَا الْمَجْمَعِ اْلكَرِيْمِ وَفِي الْجَلْسَةِ الْعَظِيْمَةِ نَوَّرَ اللهُ قُلُوْبَنَا وَإِيَّاكُمْ بِنُوْرِ مَحَبَّةِ اللهِ وَرَسُوْلِهِ وَخِدْمَةِ اللهِ وَرَسُوْلِهِ وَاْلعَمَلِ بِشَرِيْعَةِ وَسُنَّةِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وآلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ

Limpahan puji kehadirat Allah subhanahu wata’ala atas perkumpulan yang penuh dengan cahaya Allah, perkumpulan yang terang benderang dengan cahaya ridha Allah, perkumpulan yang meruntuhkan dosa-dosa dengan cahaya kewibawaan Allah, perkumpulan yang menuntun hamba-hamba kepada cahaya ridaha dan kasih sayang Allah, di segala penjuru barat dan timur tidak akan kita dapatkan perkumpulan yang membawa kepada cinta Allah dan RasulNya kecuali dalam majelis-mejelis ta’alim, majelis dzikir, majelis shalawat, shalat berjama’ah, dan di malam hari ini kita berada dalam salah satu perkumpulan tersebut, dalam majelis yang terang benderang dengan cahaya Allah. Semoga Allah menerangi seluruh hati kita dengan cahaya keluhuranNya, cahaya kewibawaanNya, cahaya keagunganNya, cahaya pengampunanNya, cahaya kasih sayangNya, cahaya ridha dan cintaNya. Jika cahaya cinta Allah tidak turun pada majelis yang dihadiri puluhan ribu hamba-hamba yang mendengar tuntunan nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan memanggil namaNya, maka dimana cahaya cinta Allah itu akan turun di bumi ini, tiada tempat yang lebih layak untuk dituruni cahaya Allah dari tempat yang paling banyak disebut nama Allah didalamnya. Maka pujian tiada terhingga atas Allah subhanahu wata’ala Yang Telah mengasuh dan menggiring kita di malam hari ini untuk hadir di dalam perkumpulan yang dipenuhi cahaya Allah subhanahu wata’ala, yang barangkali pada majelis-majelis mendatang kita telah berada dalam pendaman bumi sehingga tidak bisa lagi menghadirinya, atau mungkin karena kesibukan atau halangan yang lainnya, maka layaklah di malam hari ini untuk kita bersyukur dengan syukur yang teragung untuk Allah subhanahu wata’ala, yang mana dengan bersyukur atas cahaya Allah yang diturunkan untuk kita, Allah subhanahu wata’ala berfirman :

لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

(إبراهيم : 7 )

“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. ( QS. Ibrahim : 7)

Maka jika kita bersyukur akan nikmat dengan dihadirkannya kita dalam perkumpulan yang dipenuhi cahaya Allah, niscaya Allah akan menambah lagi cahaya keluhuran itu, cahaya kebahagiaan di dunia dan akhirat. Betapa Maha Kaya nya Allah sehingga tidak akan terhingga cahaya keluhuran yang dibagi-bagikan untuk hamba-hambaNya yang menjadi tamuNya. Dan keberadaan kita di tempat ini adalah sebagai tamu Allah yang sedang dimulikan dengan kemuliaan jamuan-jamuan rahmat Ilahi. Allah subhanahu wata’ala berfirman dalam Alqur’an untuk menggiring kita kepada cintaNya dan kepada cinta nabiNya dan pada perjuangan dakwah beliau shallallahu ‘alaihi wasallam, Allah subhanahu wata’ala :

قُلْ إِنْ كَانَ آَبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ

( التوبة : 24 )

“Katakanlah: “Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.” Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik.” ( QS. At Taubah : 24 )

Jika keluarga dari orang tua, istri dan anak-anak, serta harta kekayaan lebih dicintai oleh seseorang daripada Allah dan RasulNya, maka tunggulah keputusan (kehancuran) dari Allah baik dalam kehidupannya di dunia atau pun kelak di alam barzakh atau di hari kiamat yang akan turun kepadanya, karena ia lebih mencintai yang lain daripada cinta kepada Allah dan RasulNya serta dakwah beliau shallallahu ‘alaihi wasallam. Secara zhahir ayat ini sangat keras dan menakutkan, namun sebaliknya ayat ini justru menunjukkan cahaya cinta Allah, akan betapa besarnya cinta Allah kepada hamba-hambaNya, karena Dia menginginkan hamba-hambaNya lebih mencintaiNya dan rasulNya, serta dakwah beliau shallallahu ‘alaihi wasallam daripada semua keluarga, harta bendanya, pekerjaannya dan lainnya, hal itulah yang diinginkan oleh Allah subhanahu wata’ala melalui ayat ini. Maka jika hal itu masih diabaikan dan masih memilih untuk lebih mencintai selain Allah dan RasulNya maka tunggulah waktu dimana Allah akan datangkan keputusan untuknya berupa kehancuran, baik dengan musibah-musibah di dunia, di alam kubur atau kelak di hari kiamat. Ya Allah, kami ingin mencintaiMu dan nabi-Mu lebih dari segala-galanya, dan mencintai Nabi-Mu adalah perwujudan dari mencintai-Mu, maka jadikanlah kami berada diantara kelompok mereka. Siapa dan dimanakah mereka itu?, diantara mereka adalah orang-orang yang hadir dalam perkumpulan-perkumpulan mulia seperti sekarang ini, karena saat ini kalian hadir ke tempat ini dengan meninggalkan keluraga dan harta di rumah, dengan keinginan untuk mendekat kepada Allah dan Rasul-Nya serta mencari ketenangan bathin. Allah subhanahu wata’ala menginginkan hamba-hambaNya seperti itu bahkan lebih lagi, semoga Allah subhanahu wata’ala memberikan kepada kita sifat cinta yang besar, hingga kita mencapai derajat terluhur dalam mencintaiNya, amin allahumma amin. Namun terkadang ada sebagian yang merasa dan berkata : “Aku belum pernah mencintai Allah, belum pernah mengalirkan air mata rindu kepada Allah”, jika hal ini yang terjadi maka apa faidah hidupnya sejak lahir hingga malam hari ini. Ingatlah ketika kita sakit terkadang kita menangis, ketika salah seorang saudara kita wafat kita menangis, musibah menimpa kita maka air mata mengalir, namun dimanakah air mata yang mengalir karena Allah subhanahu wata’ala, padahal telah kita ketahui dalam sebuah hadits bahwa diantara golongan yang mendapat naungan Allah di hari kiamat adalah orang yang menangis dalam kesendiriannya karena mengingat Allah; sebagian ahli tafsir mengatakan, dalam keramaian ketika berdzikir bersama. Maka perkumpulan seperti ini yang kita perjuangkan demi Allah, dimana setiap malam seseorang berusaha untuk selalu menghadirinya, serta menjajakan kepada orang lain agar nama Allah disebut, agar Allah dicintai dan dimuliakan, namun kemampuan seorang hamba ternyata dibatasi oleh Allah, sehingga banyak diantara majelis-majelis yang tidak bisa dihadiri, yang mungkin tidak lain penyebabnya adalah banyaknya dosa sehingga belum pantas untuk menyebarkan nama Allah hingga ke segala penjuru barat dan timur. Kita renungkan sejenak, apakah cinta Allah itu?, dan renungkanlah siapa yang memberi kita tubuh ini, dari tangan, kaki, pendengaran, penglihatan, ucapan, dan lainnya, darimanakah semua kenikmatan tersebut datang dan dari kebaikan siapa? rizki yang kita dapatkan dari siapa?, mungkin diantara kita ada yang berkata : “rizeki yang saya dapatkan karena saya bekerja”, bekerja dimana?, mungkin ada yang menjawab : “bekerja di kantor, di ladang, di perdagangan dan lainnya”, siapa yang menciptakannya?, kesemuanya tidak lain hanyalah dari kebaikan dan cinta Allah subhanahu wata’ala terhadap hamba-hambaNya. Maka dalam ayat diatas Allah meminta cinta hamba-hambaNya untukNya dan untuk nabiNya sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.

Semoga Allah subhanahu wata’ala tidak menjadikan kita dalam kelompok orang-orang yang fasiq. Ya Allah salahkah jika kami menangis memohon cintaMu, meskipun kami masih mencintai banyak hal selainMu dan RasulMu, bahkan diantara kami ada yang hingga tidak pernah mencintaiMu serta melupakanMu, bahkan tidak pernah pula merindukanMu, hati seperti apa yang ada pada diri ini Ya Allah maka perbaikilah dan tiada yang mampu memperbaikinya selainMu…

فَقُوْلُوْا جَمِيْعًا

Ucapkanlah bersama-sama

يَا الله…يَا الله… ياَ الله.. ياَرَحْمَن يَارَحِيْم …لاَإلهَ إلَّاالله…لاَ إلهَ إلاَّ اللهُ اْلعَظِيْمُ الْحَلِيْمُ…لاَ إِلهَ إِلَّا الله رَبُّ اْلعَرْشِ اْلعَظِيْمِ…لاَ إِلهَ إلَّا اللهُ رَبُّ السَّموَاتِ وَرَبُّ الْأَرْضِ وَرَبُّ اْلعَرْشِ اْلكَرِيْمِ…مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ،كَلِمَةٌ حَقٌّ عَلَيْهَا نَحْيَا وَعَلَيْهَا نَمُوتُ وَعَلَيْهَا نُبْعَثُ إِنْ شَاءَ اللهُ تَعَالَى مِنَ اْلأمِنِيْنَ

Adapun hal lain yang perlu saya sampaikan bahwa Majelis Fiqh insyaallah dimulai hari Sabtu yang akan datang. Dan bagi yang ingin belajar membaca Al qur’an bisa belajar kepada Ustaz Deden Mustafa , serta menghafal Al qur’an bersama ustaz Zaki bin Syahab di markas Majelis Rasulullah setiap hari kecuali hari Sabtu dari pagi sampai jam 17.00 Wib. Selanjutnya tempat acara malam Nisfu Sya’ban kita ganti di Monas, karena di Monas tempat lebih luas dan suara sound tidak menggaung seperti di Istiqlal, dan Insyaallah acara malam Nisfu Sya’ban setiap tahunnya akan diadakan di Monas. Acara dimulai jam 20.30 Wib sampai jam 22.00 Wib atau 22.30 Wib karena kita akan membaca Yasin 3 kali dan dzikir يا الله 1000 kali, jadi jika ada acara malam Nisfu Sya’ban di rumah atau di masjid dekat rumah masing-masing yang diadakan setelah maghrib maka hadirilah, karena masih ada waktu untuk hadir juga di Monas. Bayangkan jika nanti yang hadir di Monas adalah 1 juta jiwa maka pahala bacaan Yasin 1 juta akan kita dapatkan, subhanallah. Serta dzikir يا الله 1000 X dikalikan 1 .000.000 maka pahala 1.000.000.000 dzikir يا الله akan kita dapatkan, belum lagi dikalikan 700 karena malam Nisfu Sya’ban termasuk ke dalam hari-hari yang mana amal kebaikan dilipatgandakan hingga 700 kali lipat. Adapun mengenai malam Nisfu Sya’ban terdapat pendapat yang mengatakan bahwa di malam Nisfu Sya’ban itu ditentukannya ajal, rizeki, dan jodoh atau anak-anak kita, namun pendapat jumhur ulama’ sebagaimana dikatakan oleh Al Imam An Nawawi bahwa hal tersebut ditentukan di malam Lailatul Qadr. Akan tetapi dijelaskan dalam Tuhfah Al Ahwadzy dalam memadukan kedua pendapat ini, para ulama’ berpendapat bahwa di malam Nisfu Sya’ban itu ditentukan urusan keduniawian seperti rizeki, pekerjaan, menikah, mempunyai keturunan dan lainnya, sedangkan di malam Lailatul Qadr bulan Ramadhan adalah penentuan urusan-urusan akhirat seperti derajat di akhirat, pengampunan Allah di alam kubur, dimudahkan dalam hisab, dan lainnya, maka tidak selayaknya untuk tidak kita perhatikan kedua malam tersebut. Selanjutnya kita bershalawat dan salam kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Raih pahala, sebarkan kebaikan..

Comments are closed.