Rukun-rukun di dalam sholat

Jasaltul Itsnain Majelis Rasulullah SAW,

Senin, 9 Januari 2016

– Habib Ja’far Al Athas –

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Kita ucapkan selamat datang kepada dewan guru kita, Al Habib Muhammad Bagir bin Alwi bin Yahya, mudah-mudahan Allah beri keberkahan panjang umur, sehat wal afiyat, di murahkan rezeki nya oleh Allah Swt, di berkahkan ilmu dan di beri kemanfaatan oleh Allah Swt, dan kita doakan guru-guru kita semuanya, terutama Habib Alwi bin Aburrahman AL Habsyi, mudah-mudahan Allah berikan panjang umur, sehat wal afiyat, bisa terus hadir bersama kita Amin Ya Robbal ,alamin.

Guru kita Al Habib Muhammad Al Idrus, Habib Hasan Al Hamid, Ust Abdussalam dan para Asatidzah yang lainnya yang tidak kami sebutkan satu-persatu, Ust Ahmad Afif, dan yang lain-lainnya, yang hadir semuanya, mudah-mudahan Allah Swt panjangkan umur beliau semuanya, dan di berikan keberkahan oleh Allah Swt dunia dan akhirat, Amin Ya Robbal , alamin. Sebagaimana biasa kita baca kitab Safinatunnajah, sudah dua minggu kita tidak baca kitabnya, karena kita kemarin kedatangan tamu kita, kemudian yang sebelumnya saya tidak hadir, mudah-mudahan Allah Swt gantikan keberkahan majelis kita semuanya menjadikan ilmu-ilmu yang kita baca semuanya bermanfaat dunia sampai akhirat Amin Ya Robbal , alamin.

Untuk mempersingkat waktu kita baca niatnya Al Habib Abdullah Al Haddad.

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

الْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى أَشْرَفِ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ أَمَّا بَعْد
نَوَيْتُ التَّعَلُّمَ وَالتَّعْلِيْمَ، وَالنَّفْعَ وَالاِنْتِفَاعَ، وَالْمُذَاكِرَةَ وَالتَّذْكِيْرَ،
وَالإِفَادَةَ وَالاِسْتِفَادَةَ، وِالْحِثُّ عَلَى تَمَسُّكِ بِكِتَابِ الله،
وَبِسُنَّةِ رَسُوْلِ الله صلى الله عليه وسلَّم،
وَالدُّعَاءَ إِلَى الْهُدَى، وَالدِّلالَةَ عَلَى الْخَيْرِ،
اِبْتِغَاءَ وَجْهِ الله وَمَرْضَاتِهِ وَقُرْبِهِ وَثَوَابِهِ
سُبْحَانَكَ لَا عِلْمَ لَنَا إِلَّا مَا عَلَّمْتَنَا ۖ إِنَّكَ أَنتَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ
رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي اَمْرِي وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي يَفْقَهُوا قَوْلِ

Alhamdulillah wasyukrulillah, di malam hari ini kita kembali di dalam pengajian kita, hadir di dalam pembacaan maulid nya Nabi Muhammad Saw, yang mudah-mudahan selalu kita bergembira dengan Rasulullah Saw, bukan hanya di Robiul Awwal, bahkan di setiap waktu kita , bahkan di setiap nafas kita insya Allah di berikan oleh Allah Swt kegenbiraan di dalam hati kita yang menyatu di dalam sanubari dan ruhani kita, jasadiah kita,  dengan Allah dan Rasulnya Amin Ya Robbal Alamin.

Sholawat dan salam selalu kita haturkan untuk baginda besar Saw, mudah-mudahan sholawat kita membawa kita paling dekatnya manusia yang bersama Rasulullah Saw, di dunia, di alam barzah, di alam mahsyar, bersama nya dengan Rasulullah Saw di dalam surga Allah Swt dan Allah ridho dengan kita semuanya. Amin Ya Robbal Alamin.

Dalam pembahasan kita yang telah lalu kita bahas rukun-rukun di dalam sholat yang kemarin kita bahas tiga di antaranya  yaitu masalah

  1. Takbiratul ihram

2. Niat sholat

3. Berdiri dalam sholat fardhu bagi yang mampu

Itu semuanya telah kita bahas dan akan masuk kita di dalam pembahasan yang ke empat  yaitu surat Al Fatihah,

Pembacaan surat Al Fatihah didalam sholat fardhu dan di dalam semua sholat, bukan hanya di dalam sholat fardhu, bahkan di seluruh sholat rukun-rukun ini termasuk di dalam keseluruhan sholat kita kepada Allah Swt dan terutama di dalam surat Al Fatihah,

Allah katakan di dalam Hadist Rasulullah Saw:

“Aku jadikan di dalam sholat antara aku dan antara hamba-hamba ku dua bagian, apabila hamba ku mengatakan  بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ  aku mengatakan “Hamba ku menyebut aku”, apabila hamba ku mengatakan  الْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ, aku menjawab “memuji hambaku kepadaku”, dan apabila mengatakan Arrohmanirrohim, aku mengatakan , “puji hambaku kepadaku”, apabila hambaku mengatakan مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ, aku mengatakan “mengagungkan aku hambaku”,  apabila hamba ku mengatakan إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ,  “ini untukku dan untuk hamba ku yang dia minta”,

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ
صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ

Ini untuk hambaku dan apa yang hambu minta aku berikan.

Ini nikmatnya ketika kita ber dialog langsung dengan Allah Swt, kita berbicara Allah jawab , itu adalah makna yang terkandung di dalam surat Al Fatihah, Surat Al Fatihah di dalam mazhab Syafii adalah wajib, merupakan wajib di dalam setiap sholat kita dan di katakan di dalam masalah yang berkaitan di dalam surat Al Fatihah. Ummi salamah meriwayatkan dari imam baihaqi dan Imam Hakim mengatakan  bahwasannya Rasulullah Saw:

“Rasulullah membaca Bismillahirrohmanirrahim dan memasukannya dari pada ayat surat Al Fatihah”

Karena bacaan Bismillahirrahmanirrahim khilaf  di antara ulama-ulama kita, begitu juga ulama empat mazhab, di dalam mazhab kita Imam Syafii ada perbedaan pendapat antara para ulama kita , rujukan ulama-ulama Yaman mereka mengambil dari pada pendapat Ibin Hajar, dan ulama-ulama Mesir dan ulama-ulama sekitarnya mengambil pendapat dari Imam Romli.

Keduanya ulama-ulama hebat di dalam Imam Syafii di dalam mengambil lagi, meneliti lagi, memperhatikan lagi dalil-dalil yang kuat, sehingga memasukannya di dalam pendapat mereka di dalam intisari di dalam mazhab Imam Syafii Ra.

Di dalam masalah Bismillahirrahmanirrahim, mazhab kita Imam Syafii adalah bagian dari setiap surat termasuk surat Al Fatihah kecuali surat At- taubah, karena disitu ada khilaf , Ibin Hajar mengatakan surat At Taubah haram di baca Bismillahirrahmanirrahim karena Allah Swt sedang murka kepada hamba-hambanya di dalam surat tersebut sehingga di awalnya di katakan Ibin Hajar haram membacanya dengan Bismillahirrahmanirrahim.karena Allah Swt sedang murka kepada hamba-hambanya di dalam surat tersebut sehingga di awalnya dikatakan oleh Ibin Hajar haram membacanya dengan Bismillahirrahmanirrahim.

Sedangkan di pertengahannya makruh, tetapi Imam Romli mengatakan di awalnya makruh di tengahnya sunnah, jadi kita boleh ambil yang mana saja. Yang kedua-duanya boleh kita ambil karena pendapatnya kuat di dalam Imam Syafii Ra.

Kemudian di dalam pembacaan surat Al Fatihah merupakan rukun didalam sholat kita ada 12 syaratnya.

  1. Harus tertib bacanya, tidak boleh mendahulukan ayat dari ayat yang lain.
  2. Langsung bacanya, tidak boleh melebihi kadar mengambil nafas.
  3. Memperhatikan semua huruf-hurufnya,
  4. Memperhatikan tasydidnya,
  5. Tidak boleh diam,
  6. Di baca seluruh ayatnya, termasuk Bismillahirrahmanirrahim,
  7. Tidak boleh melagukan bacaan yang merubah makna
  8. Dibacanya di dalam berdiri dalam keadaan sholat fardhu
  9. Harus di dengar oleh dirinya ,tanpa mengganggu kanan dan kirinya.
  10. Tidak boleh di selingi zikir-zikir yang lain
  11.  Tidak boleh merubah niatnya
  12.  Harus dengan bahasa arab.

Itulah 12 dari pada syarat dari pada sahnya surat Al Fatihah, mudah-mudahan kita bisa peraktekan dari sekarang , kemudian dikatakan setelah surat Al Fatihah adalah rukuk, rukuk secara bahasa adalah membungkuk, dalam fiqihnya membungkukan badan sampai menyentuh kedua telapak tangannya kedua lututnya tanpa lutunya ditekuk. Kalau di tekuk tanpa udzur tidak sah.

Kemudian syaratnya rukuk ada 6:

  1. Dengan syarat rukun yang sebelumnya tetap sah melakukan ibadah yang rusak hukumnya haram.
  2. Ada tuma’ninahnya sekadar bacaan Subhanallah
  3. Tuma’ninah nya harus yakin,
  4. Tidak boleh punya tujuan lain,
  5. Membungkukan badannya sampai kedua telapak tangannya menyentuh kedua lututnya.
  6. Tidak boleh ada tekukan lututnya.

Itulah 6  dari pada syarat rukuk, kemudian di katakan yang ke 6 adalah tuma’ninah nya, di masukan di dalam kitab tuma’ninah adalah rukun. Yang tadi di masukan ke dalam syarat sah  nya rukuk,

 

Kemudian yang ke 7 I’tidal,

Berdiri tegak, kemudian di dalam bahasa fiqihnya kembalinya seorang kepada gerakan sebelum rukuk, kemudian harus lurus punggung nya dan tidak boleh bungkuk, kemudian tidak boleh melebihi bacaan nya melebihi kadar yang di sunnah kan, kecuali kata Ibn Hajar, di dalam rakaat yang terakhir di bolehkan, asal kata Imam Romli dengan qunut, kalau dia hanya manjangin saja tapi tidak membaca qunut tidak boleh, batal sholatnya, itu adalah dari pada syarat-syarat itidal.

Yang kedelapan adalah tuma’ninah, tuma’ninah di dalam kitab ini adalah bagian dari rukun, didalam pembahasan sholat, di dalam kitab Safinatunnajah,

Mudah-mudahan Allah sempurnakan sholat kita, di berikan pengetahuan oleh Allah Swt, Insya Allah di berikan taufiq untuk mengamalkannya, sehingga kita benar-benar nikmatin sholat kita, karena kita sedang berdialog denga Allah Swt, lagi berhadapan di hadrah nya Allah Swt, mudah-mudahan Allah berikan kedalam hati dan ruh kita, kenikmatan, kelezatan setiap ibadah-ibadah kita, terutama sholat kita dengan Allah Swt Amin Ya Robbal Alamin,

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,

 

Raih pahala, sebarkan kebaikan..

Comments are closed.