Sifat Pencemburu Allah SWT, Senin 30 April 2012


S
ifat Pencemburu Allah SWT
Senin, 30 April 2012


قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : لَا أَحَدَ أَغْيَرُ مِنْ اللَّهِ، وَلِذَلِكَ حَرَّمَ الْفَوَاحِشَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا، وَمَا بَطَنَ، وَلَا شَيْءَ، أَحَبُّ إِلَيْهِ الْمَدْحُ، مِنْ اللَّهِ، وَلِذَلِكَ مَدَحَ نَفْسَهُ

(صحيح البخاري)

Sabda Rasulullah SAW: “Tiada siapapun yang lebih pencemburu dari Allah, karena itulah Dia (SWT) melarang perbuatan dosa dan jahat, yang terang terangan atau yang tersembunyi, dan tiada siapapun yang lebih suka dipuji, selain Allah, oleh sebab itulah Dia (SWT) memuji Dzat-Nya (SWT) sendiri) (Shahih Bukhari)

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

حَمْدًا لِرَبٍّ خَصَّنَا بِمُحَمَّدٍ وَأَنْقَذَنَا مِنْ ظُلْمَةِ اْلجَهْلِ وَالدَّيَاجِرِ اَلْحَمْدُلِلَّهِ الَّذِيْ هَدَانَا بِعَبْدِهِ اْلمُخْتَارِ مَنْ دَعَانَا إِلَيْهِ بِاْلإِذْنِ وَقَدْ نَادَانَا لَبَّيْكَ يَا مَنْ دَلَّنَا وَحَدَانَا صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبـَارَكَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ اَلْحَمْدُلِلّهِ الَّذِي جَمَعَنَا فِي هَذَا الْمَجْمَعِ اْلكَرِيْمِ وَفِي الْجَلْسَةِ الْعَظِيْمَةِ نَوَّرَ اللهُ قُلُوْبَنَا وَإِيَّاكُمْ بِنُوْرِ مَحَبَّةِ اللهِ وَرَسُوْلِهِ وَخِدْمَةِ اللهِ وَرَسُوْلِهِ وَاْلعَمَلِ بِشَرِيْعَةِ وَسُنَّةِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وآلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ.

Limpahan puji kehadirat Allah subhanahu wata’ala Yang Maha Luhur, Yang Maha membuka rahasia kerajaan alam semesta dengan cahaya keindahaNnya, melimpahkan cahaya keluhuran, cahaya kemuliaan dan cahaya kasih sayangNya, dan kita sebagai manusia diberi kesempatan untuk melewati kehidupan yang sementara di dunia demi mencapai keridhaan Allah yang kekal dan abadi, untuk mencapai kebahagiaan yang kekal dan abadi. Allah subhanahu wata’ala menerangi jiwa hambaNya dengan iman, sehingga terang benderanglah jiwa itu sebab cahaya Allah, yang mana akan terlihatlah sifat-sifat kita yang hina yang kemudian kita siap untuk meninggalkannya, dengan cahaya tersebut terlihat dan terpisahlah antara sifat yang baik dan sifat yang buruk dalam hati kita hingga kita dapat membedakan dan dengan mudah untuk menjalankan perbuatan yang baik dan meninggalkan perbuatan yang hina. Namun ketika cahaya iman dalam hati seseorang semakin gelap, maka ia semakin tidak akan dapat membedakan antara hal yang baik dan yang buruk, sebaliknya semakin terang cahaya iman di hati seseorang maka ia akan semakin mampu membedakan antara perbuatan yang diridhai Allah subahanahu wata’ala dan perbuatan buruk yang dimurkai oleh Allah. Hal ini akan terlihat dan tampak dengan cahaya iman. Allah subhanahu wata’ala berfirman :

اللَّهُ نُورُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ مَثَلُ نُورِهِ كَمِشْكَاةٍ فِيهَا مِصْبَاحٌ الْمِصْبَاحُ فِي زُجَاجَةٍ الزُّجَاجَةُ كَأَنَّهَا كَوْكَبٌ دُرِّيٌّ يُوقَدُ مِنْ شَجَرَةٍ مُبَارَكَةٍ زَيْتُونَةٍ لَا شَرْقِيَّةٍ وَلَا غَرْبِيَّةٍ يَكَادُ زَيْتُهَا يُضِيءُ وَلَوْ لَمْ تَمْسَسْهُ نَارٌ نُورٌ عَلَى نُورٍ يَهْدِي اللَّهُ لِنُورِهِ مَنْ يَشَاءُ وَيَضْرِبُ اللَّهُ الْأَمْثَالَ لِلنَّاسِ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

( النور : 35 )

“Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang banyak berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat (nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” ( QS. An Nuur : 35 )

اللَّهُ نُورُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ

“Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi”

Dalam menafsirkan ayat tersebut, sebagian Ulama’ menafsirkan diantara penafsirannya bahwa Allah Maha Mengasuh langit dan bumi, Allah Maha Melindungi dan Maha mengatur langit dan bumi, Allah Maha Tunggal menentukan segala kejadian di langit dan bumi, Allah Maha Mampu merubah keadaan dan Allah Mampu menerangi jiwa hamba-hamba yang beriman dengan kemuliaan dan cahaya-cahaya tuntunan para Nabi dan Rasul, yang berakhir dengan pemimpin para pembawa cahaya iman sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, yang Allah memberinya gelar sebagai “Cahaya yang terang benderang” sebagaimana firmanNya :

وَدَاعِيًا إِلَى اللَّهِ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيرًا

( الأحزاب : 46 )

“Dan untuk jadi penyeru kepada Agama Allah dengan izin-Nya dan untuk jadi cahaya yang menerangi.” ( QS. Al Ahzaab : 46 )

Maka disini dapat kita fahami ketika Allah subhanahu wata’ala menggelari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai “Pelita yang terang benderang”, bahwa beliau shallallahu ‘alaihi wasallam lah cahaya Allah subhanahu wata’ala, beliau lah hamba yang menerangi alam semesta ini dengan hidayah, dengan tuntunan keluhuran dan seindah-indah budi pekerti beliau shallallahu ‘alaihi wasallam, yang diantaranya beliau adalah makhluk yang paling ramah dan dermawan, makhluk yang paling sopan dan berlemah lembut dari semua makhluk Allah subhanahu wata’ala. Sebagaimana dalam sebuah riwayat yang sering kita dengan, dimana ketika seseorang datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan berkata : “sungguh aku akan celaka dan masuk akan masuk neraka”, maka Rasulullah shallalahu ‘alaihi wasallam bersbada : “wahai Fulan, apa yang menyebabkanmu mengucapkan hal demikian?”, kemudian orang itu berkata : “Wahai Rasulullah, aku telah berjima’ dengan istriku di siang hari bulan Ramadhan”, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Bertobatlah kepada Allah, dan engkau harus berpuasa selama 2 bulan berturut-turut”, maka orang tersebut berkata : “wahai Rasulullah, aku adalah seorang kuli yang miskin, untuk berpuasa selama satu bulan bagiku sangatlah berat dan tidak mampu melakukannya apalagi harus berpuasa selama 2 bulan berturut-turut”, . Kita ketahui bahwa tidak ada seorang pun yang lebih tegas dalam menjalankan syariat daripada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, namun kita lihat bagaimana keindahan dalam sikap ketegasan beliau shallallahu ‘alaihi wasallam dalam menanggapi permasalahan orang tersebut, yang mana ketika orang yang tadi berkata bahwa ia tidak mampu melakukan puasa selama 2 bulan, lantas sebagai ganti dari puasa itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyuruh orang tersebut untuk memberi makan 60 orang miskin, maka ia pun berkata : “Wahai Rasulullah aku adalah seorang yang miskin, untuk memberi makan keluargaku saja aku merasa sangat kesusahan, bagaimana aku harus memberi makan untuk 60 orang”, mendengar ucapan orang tersebut dan karena kasih sayang dan sifat lemah lembutnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kemudian beliau mengambil kurma milik beliau shallallahu ‘alaihi wasallam untuk menebus dosa orang tersebut, seraya berkata : “berikanlah kurma ini kepada penduduk yang termiskin di Madinah ”, maka orang tersebut berkata : “Wahai Rasulullah, orang yang termiskin di Madinah adalah aku”, kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata : “jika begitu, ambillah kurma itu untukmu”. Dari sini kita ketahui bagaimana kelembutan dan kasih sayang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam baik ketika di dunia atau pun kelak di akhirat. Dimana di akhirat kasih sayang beliau shallallahu ‘alaihi wasallam berupa syafa’at kubra, sebagaimana yang banyak teriwayatkan dalam Shahih Al Bukhari dan Shahih Muslim bahwa beliau shallallahu ‘alaihi wasallam mensyafaati sedemikian banyak orang yang telah masuk ke dalam neraka selama ia tidak menyembah kepada selain Allah selama hidup di dunia. Namun dalam hal ini masih banyak orang yang terkadang merasa bingung dan bertanya-tanya ; “siapakah yang lebih baik dan berkasih sayang, Allah subhanahu wata’ala atau nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam?, Allah subhanahu wata’ala yang telah menciptakan neraka kemudian memasukkan hamba-hambaNya ke dalam neraka itu namun Rasulullah shallallahu ‘alahi wasallam justru mengeluarkan mereka dengan syafaat beliau Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam”. Maka dalam hal ini harus kita fahami bahwa Allah subhanahu wata’ala lah yang telah menciptakan nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan menjadikan beliau memiliki sifat lemah lembut serta mampu memberikan syafaat untuk manusia, maka kesemua itu adalah atas kehendak Allah subhanahu wata’ala, sebagai bentuk daripada ungkapan cinta Allah kepada hamba-hambaNya, maka cintailah Allah subhanahu wata’ala Yang memberi petunjuk dengan cahayaNya kepada siapa pun yang dikehendakiNya, semoga kita senantiasa diterangi oleh cahaya Allah dengan hidayahNya, amin. Di hari-hari terakhir ketika Rasulullah dalam keadaan sakaratul maut, diantara wasiat yang beliau shallallahu ‘alaihi wasallam ucapkan adalah :

اَلصَّلاَةُ اَلصَّلاَةُ

“(Lakukanlah) shalat, shalat”

Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

اَلصَّلاَةُ نُوْرٌ

“ Shalat adalah cahaya “

Maka semakin seseorang banyak meninggalkan shalat, maka akan semakin gelap kehidupan bathin (sanubari) dan zhahirnya. Begitu juga semakin seseorang banyak melakukan shalat, disamping mengerjakan shalat yang fardhu ia juga melakukan shalat-shalat yang sunnah maka hal tersebut akan semakin membuat hati seseorang menjadi tenang dan bercahaya dalam masa hidupnya di dunia dan kehidupannya di akhirat.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam demikian lembut dan berkasih sayang kepada semua makhuk, namun Allah subhanahu wata’ala lebih Maha berkasih sayang, sehingga berfirman dalam hadits qudsi :

إنَّ رَحْمَتِي غَلَبَتْ غَضَبِي

“ Sesungguhnya rahmatKu (kasih sayang) mengalahkan (melebihi) kemurkaan-Ku”

Sehingga setiap satu kebaikan seseorang akan dibalas dengan sepuluh kebaikan, sedangkan satu perbuatan jelek hanya dibalas dengan satu kejelekan, maka hal ini menunjukkan bahwa kasih sayang Allah melebihi kemurkaanNya. Oleh sebab itu sesuatu yang sangat mudah didapatkan oleh seorang hamba adalah pengampunan Allah subhanahu wata’ala karena para malaikat pun memohonkan pengampunan untuk penduduk bumi, yaitu manusia. Akan tetapi hal tersebut tidak boleh diremehkan karena Allah subhanahu wata’ala juga memiliki kemurkaan.
Sebagaimana Allah subhanahu wata’ala berfirman:

تَكَادُ السَّمَوَاتُ يَتَفَطَّرْنَ مِنْ فَوْقِهِنَّ وَالْمَلَائِكَةُ يُسَبِّحُونَ بِحَمْدِ رَبِّهِمْ وَيَسْتَغْفِرُونَ لِمَنْ فِي الْأَرْضِ أَلَا إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

( الشورى : 5 )

“Hampir saja langit itu pecah dari sebelah atasnya (karena kebesaran Tuhan) dan malaikat-malaikat bertasbih serta memuji Tuhannya dan memohonkan ampun bagi orang-orang yang ada di bumi. Ingatlah, bahwa sesungguhnya Allah Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” ( QS. As Syuuraa: 5 )

Mengapa langit hampir terbelah? Yaitu karena gemuruh para malaikat yang berdzikir menyebut nama Allah subhanahu wat’ala dan memohonkan ampunan kepada Allah subhanahu wata’ala untuk penduduk bumi, demikian dahsyat dan hebatnya gemuruh para malaikat yang berdzikir dan memohonkan ampunan kepada Allah untuk penduduk bumi, sehingga hampir membuat langit terbelah, sedangkan jika seluruh penduduk bumi semuanya berkumpul dan berdzikir maka hal itu belum mampu untuk sekedar menggeser sebuah gunung apalagi membuat langit terbelah. Dan dalam hal ini yang perlu kita ketahui bahwa para malaikat memohonkan pengampunan untuk penduduk bumi adalah atas perintah dan kehendak Allah subhanahu wata’ala karena rahmatNya terhadap hamba-hambaNya, maka apalagi hal yang menghalangi kita untuk mencintai Allah subhanahu wata’ala?!.

Sampailah pada hadits agung yang telah kita baca, dimana hadits tersebut mengundang kita untuk mencintai dan dicintai Allah subhanahu wata’ala. Dalam hadits tersebut disebutkan bahwa tiada yang lebih pencemburu daripada Allah subhanahu wata’ala, dan kita ketahui bahwa cemburu timbul dari rasa cinta. Sehingga dari rasa cemburu itu Allah subhanahu wata’ala mengharamkan perbuatan-perbuatan jahat baik yang zhahir atau pun yang bathin, baik perbuatan dosa yang tampak dan terlihat mata ataupun perbuatan dosa yang tidak terlihat oleh mata, sebagaimana penyakit hati seperti berprasangka buruk, sombong, iri, dengki dan lainnya maka semua itu dilarang oleh Allah subhanahu wata’ala karena Allah ingin hamba-hambaNya dekat kepadaNya. Sebab jika seseorang berbuat dosa baik secara zhahir atau bathin maka hal itu akan menjauhkan seorang hamba dari Allah subhanahu wata’ala dan Allah tidak ingin hal itu terjadi, sehingga Allah mengharamkan perbuatan-perbuatan jelek agar hamba-hambaNya menjauh dan meninggalkan perbuatan tersebut kemudian mendekat kepada Allah subhanahu wata’ala, demikian indahnya Allah subhanahu wata’ala. Jika Allah subhanahu wata’ala tidak menyayangi hamba-hambaNya maka Allah akan membiarkan mereka berbuat apa saja, berbuat baik atau buruk. Dan Allah telah menciptakan surga dan neraka, siapa saja yang Allah kehendaki untuk masuk ke surga atau ke neraka maka hal itu mudah bagi Allah subhanahu wata’ala. Namun karena Allah subhanahu wata’ala memiliki rasa kasih sayang terhadap hamba-hambaNya, akan tetapi cinta Allah itu sering diremehkan bahkan ditolak oleh hamba namun Allah subhanahu wata’ala tidak marah dan tidak putus asa untuk tetap menanti jawaban cinta hamba-hambaNya hingga sampai pada nafas-nafas terakhir seorang hamba ketika sakaratul maut, tidak seperti makhluk sebagaimana kita ketahui ketika kita mencintai orang lain dan cinta itu tidak dijawab, maka kita akan merasa sakit hati, marah, atau bahkan menjauh darinya dan lain sebagainya, namun Allah subhanahu wata’ala akan tetap menanti jawaban cinta hamba-hambaNya. Maka gunakanlah selagi masih tersisa nafas-nafas kita untuk mencintai Allah subhanahu wata’ala, untuk merindukan Allah subhanahu wata’ala, dan mengagungkan Allah dengan menjauhi hal-hal yang hina di sisi Allah semampu kita, adapun atas perbuatan jelek yang belum mampu kita hindari maka senantiasalah memohon kepada Allah agar diberi kemudahan dan kekuatan untuk menghindari hal-hal yang tidak diridhai oleh Allah subhanahu wata’ala, serta perbanyaklah berbuat sesuatu yang diridhai Allah terlebih hal-hal yang wajib bagi kita, dan juga perbanyaklah perbuatan-perbuatan yang sunnah, karena perbuatan-perbuatan baik akan menghapus perbuatan-perbuatan yang buruk, sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala :

إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ ذَلِكَ ذِكْرَى لِلذَّاكِرِينَ

(هود : 114 )

“Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat.” ( QS. Huud : 114)

Dalam hadits tersebut diatas yang dimaksud bahwa “Allah subhanahu wata’ala mengharamkan perbuatan-perbuatan buruk”, sebagian ulama’ mengatakan bahwa yang dimaksud perbuatan-perbuatan buruk adalah perbuatan zina dan perbuatan yang mengakibatkan perbuatan zina, karena di masa jahiliyyah perbuatan zina tidak apa-apa dilakukan jika secara sembunyi-sembunyi, adapun jika secara terang-terangan maka termasuk hal yang buruk. Akan tetapi dalam syariat agama Islam Allah subhanahu wata’ala mengharamkan perbuatan tersebut baik secara terang-terangan ataupun secara sembunyi-sembunyi. Adapun Al Imam Ibn Hajar Al Asqalani mengatakan bahwa pendapat yang paling kuat adalah bahwa Allah subhanahu wata’ala mengharamkan segala perbuatan jelek, karena kecemburuan Allah yang muncul sebab cintaNya kepada hamba-hambaNya. Namun jika saat ini hingga kelak ketika sakaratul maut cinta Allah itu kita tolak, bagiamana keadaan kita kelak ketika akan menghadap Allah subahanahu wata’ala, dimanakah tempat orang-orang yang menolak cinta Allah ketika di dunia?!, bagaimana wajah-wajah orang yang yang kelak ketika dipanggil: “Fulan bin Fulan maju kehadapan Allah”, Allah subhanahu wata’ala berfirman :

إذَا أَحَبَّ الْعَبْدُ لِقَائِي أَحْبَبْت لِقَاءَهُ وَإِذَا كَرِهَ عَبْدِي لِقَائِي كَرِهْت لِقَاءَهُ

“ Jika seorang hamba ingin (suka) dengan perjumpaanKu maka Aku juga menyukai/mencintai perjumpaannya, dan jika seorang hamba membenci perjumpaan denganKu maka Aku pun membenci perjumpaannya”

Jika seseorang yang ketika hidup di dunia ia tidak rindu kepada Allah bahkan tidak terlintas keinginan pun untuk bertemu dengan Allah subhanahu wata’ala Yang telah memberinya nafas, penglihatan, pendengaran dan kenikmatan yang lainnya, sungguh betapa malunya keadaan orang tersebut kelak berada di hadapan Allah subhanahu wata’ala.
Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

وَلَا شَيْئَ أَحَبُّ إِلَيْهِ الْمَدْحُ مِنَ اللهِ وَلِذلِكَ مَدَحَ نَفْسَهُ

“ Dan tiada sesuatu yang lebih disukai Allah daripada pujian ,oleh sebab itu Dia (Allah) memuji DzatNya”

Mengapa Allah subhanahu wata’ala memuji dzatNya?, karena Allah subhanahu wata’ala memang berhak untuk dipuji, jika seorang hamba memuji Allah subhanahu wata’ala dan ia mnegetahui bahwa Allah subhanahu wata’ala suka dipuji, kemudian hamba tersebut memuji Allah maka Allah akan memuliakannya, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyampaikan hal tersebut kepada ummat beliau supaya mereka banyak memuji Allah subhanahu wata’ala, namun bukan berarti Allah subhanahu wata’ala butuh pujian kita, tidak seperti manusia yang diantara sifat fitrah manusia adalah suka dipuji dan tidak senang dihina, meskipun bagi orang-orang yang mencapai derajat yang tinggi dari para shalihin maka bagi mereka sama saja antara dipuji atau dihina. Maka jika seseorang suka dipuji maka mungkin saja ada keinginan buruk dalam dirinya dengan pujian itu, namun jika Allah menyukai pujian maka karena Allah memang berhak untuk dipuji, dan tiada yang berhak dipuji selainNya yang telah menciptakan kerajaan alam semesta. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam megajarkan kepada kita untuk banyak memuji Allah subhanahu wata’ala. sebagaimana sabda beliau shallallahu ‘alaihi wasallam :

اَلْحَمْدُلله تَمْلأُ الْمِيْزَانَ وَسُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لله تَمْلآنِ أَوْ تَمْلَأُ مَا بَيْنَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَالصَّلاَةُ نُوْرٌ

“ Alhamdulillah memenuhi (memberatkan) timbangan, dan Subhanallah waalhamdulillah keduanya memenuhi ruang yang ada di langit dan bumi, dan shalat itu adalah cahaya”

Dan beliau shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda :

كَلَمَتانِ خَفِيفَتَانِ على اللِّسانِ ، ثَقِيلَتَانِ فِي المِيزَانِ حَبيبَتَانِ عَلَى الرَّحمَن : سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ سُبْحَانَ الله العَظِيْم

“ Dua kalimat yang ringan di lidah (diucapkan), memberatkan di timbangan, dan disukai oleh Allah : “ Subhanallah wabihamdihi subhanallah al ‘azhiim”

Yang mana ucapan tersebut sangat ringan diucapkan, namun sangat bernilai di sisi Allah subhanahu wata’ala.

Maka terangi hari-hari kita dengan ucapan-ucapan indah tersebut, terlebih lagi mungkin sebagian dari kita merasa kesulitan jika harus membaca Al qur’an, karena membaca Al qur’an harus dalam keadaan bersuci, jika kita tidak dalam keadaan bersuci maka haruslah terlebih dahulu berwudhu, namun untuk berdzikir tidak diharuskan bagi kita untuk berada dalam keadaan bersuci atau tidak berhadats. Disebutkan dalam sebuah riwayat Shahih Al Bukhari bahwa orang yang berdzikir mengingat Allah dalam kesendiriannya kemudian ia mengeluarkan air mata, maka Allah subhanahu wata’ala akan memberinya naungan kelak di hari kiamat yang mana tiada naungan kecuali naungan Allah subhanahu wata’ala, orang yang berdzikir mengingat Allah subhanahu wata’ala dalam kesendiriannya kemudian ia mengalirkan air mata. Jika kita sering bertafakkur dan mengingat Allah subhanahu wata’ala, merindukanNya Yang Maha Indah, dimana memandang Allah subhanahu wata’ala adalah merupakan kenikmatan yang terbesar. Al Imam At Thabari Ar di dalam tafsirnya menjelaskan dengan menukil sebuah riwayat yang tsiqah bahwa setelah penduduk surga masuk ke dalam surga, maka ketika itu datanglah seseorang yang membawa cahaya seperti gunung, maka mereka berkata: “siapakah orang itu?”, maka maalaikat menjawab : “ Dia adalah abu al basyar As, nabi Adam As”, maka nabi Adam As langsung menuju mimbar cahaya, kemudian datang seseorang yang membawa cahaya bagaikan gunung, dan ketika ditanya siapakah dia, maka malaikat menjawab : “Dia adalah khalilullah, Ibrahim As”, demikian seterusnya datang para nabi satu per satu, hingga kemudian datanglah seseorang yang membawa cahaya sebanyak jumlah cahaya yang dibawa oleh para nabi dan rasul, yang membawa cahaya yang paling banyak dari nabi dan para rasul sebelumnya, dan ketika ditanya Dia adalah nabi Muhammad Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, pemimpin para nabi dan Rasul. Maka ketika itu para nabi dan rasul berada di mimbar-mimbar cahaya, para syuhada’ dan shalihin berada di atas dipan-dipan cahaya, dan penduduk surga yang lainnya duduk di atas lantai yang terbuat dari misk ( minyak wangi ) menjadi lantai surga, maka ketika itu Allah subhanahu wata’ala berfirman : “Selamat datang para hamba-hambaKu, para tamu-tamuKu”, kemudian Allah memerintahkan malaikat untuk member mereka hidangan-hidangan berupa makanan, dan minuman yang belum pernah mereka rasakan di dunia, kemudian dihembuskan kepada mereka angin yang mewangikan seluruh tubuh mereka, lalu dibagikan kepada mereka pakaian-pakaian surga yang sangat indah. Ketika itu Allah subhanahu wata’ala memerintahkan malaikat untuk membuka tabir cahaya yang menghalangi antara Allah dengan hamba-hambaNya, yang mana disebutkan oleh sebagian pendapat bahwa tabir itu adalah paduan antara kegelapan, cahaya dan air, adapun sebagian Ulama’ mengatakan jumlah tabir itu adalah 70.000, kemudian tabir itu disingkap dan Allah subhanahu wata’ala berfirman :

السلام عليكم عبادي، انظروا إليّ فقد رضيت عنكم

Maka ketika itu berguncanglah surga, dan bertasbihlah seluruh malaikat, dan semua manusia tersungkur bersujud karena memandang kewibawaan dan keindahan Allah subhanahu wata’ala. Maka Allah subhanahu wata’ala berfirman :

عبادي ارفعوا رءوسكم فإنها ليست بدار عمل، ولا دار نَصَب إنما هي دار جزاء وثواب، وعزّتي وجلالي ما خلقتها إلا من أجلكم، وما من ساعة ذكرتموني فيها في دار الدنيا، إلا ذكرتكم فوق عرشي

Maka mereka pun memandang pada keindahan Allah subhanahu wata’ala…

اللهم ارزقنا النظر إلى وجهك الكريم

فَقُوْلُوْا جَمِيْعًا

Ucapkanlah bersama-sama

يَا الله…يَا الله… ياَ الله.. ياَرَحْمَن يَارَحِيْم …لاَإلهَ إلَّاالله…لاَ إلهَ إلاَّ اللهُ اْلعَظِيْمُ الْحَلِيْمُ…لاَ إِلهَ إِلَّا الله رَبُّ اْلعَرْشِ اْلعَظِيْمِ…لاَ إِلهَ إلَّا اللهُ رَبُّ السَّموَاتِ وَرَبُّ الْأَرْضِ وَرَبُّ اْلعَرْشِ اْلكَرِيْمِ…مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ،كَلِمَةٌ حَقٌّ عَلَيْهَا نَحْيَا وَعَلَيْهَا نَمُوتُ وَعَلَيْهَا نُبْعَثُ إِنْ شَاءَ اللهُ تَعَالَى مِنَ اْلأمِنِيْنَ.

Raih pahala, sebarkan kebaikan..

Comments are closed.